Gubernur Jatim Khofifah
Gubernur Jatim Khofifah

Pemprov Jawa Timur telah mengambil langkah cepat terkait adanya perubahan warna air sungai yang menjadi merah tua di beberapa wilayah aliran Bengawan Solo di Jatim. Salah satunya dengan mengambil sampel di lima titik sungai. Yaitu tiga titik di Bojonegoro (Bandung Gerak, Jembatan Padangan, Desa Kracaan Ngraho) dan dua titik di Ngawi (Jembatan Pitu dan Mantingan).

"Sampel air sungai tersebut sudah kami ambil pada tanggal 29 dan 30 November kemarin. Hasilnya baru keluar kemarin, 4 Desember," terang Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat ditemui di Surabaya (5/12). 

Hasil uji kualitas air sungai di titik Bojonegoro, parameter pencemar mineral Logam di Jembatan Padangan tertinggi TDS = 570 mg/l ;pH =7,62 ; NH4=0.0362mg/l;Mn=1.26 mg/l; Zn=0.0113mg/l;Pb=<0 xss=removed xss=removed>

Sehingga dapat dianalisis bahwa pengaruh warna masih dalam batas toleransi karena saat yang sama langsung dibuka pintu air Perum Jasa Tirta (PJT) Madiun untuk penetrasi sehingga kondisi aliran air sungai normal kembali. 

Untuk menjaga baku mutu air sungai di masa yang akan datang,  Khofifah mengharapkan sinergitas yang lebih kuat antara pihak aparat penegak hukum , kementerian teknis, serta Pemprov Jateng dan Pemprov  Jatim. Ia menjelaskan perubahan warna air sungai menjadi merah tua kemungkinan disebabkan beberapa faktor. Dan untuk mengetahui penyebab pastinya, harus dibuktikan lewat pengujian ilmiah pada sampel yang sudah diambil. 

"Perubahan warna akibat pencemaran sungai tersebut bisa dimungkinkan beberapa faktor. Dan, tentunya kami harus lakukan pembuktian lewat pengujian ilmiah. Jika terbukti pencemarnya, kami mohon dapat ditindak tegas sesuai peraturan perundang- perundangan yang berlaku," ujar orang nomor satu di Jatim ini.

Lebih lanjut disampaikan, pada 3 Desember juga telah diselenggarakan Kongres Sungai Bengawan Solo di Semarang. Pada kegiatan tersebut, juga dibahas pentingnya daya dukung alam dan lingkungan. Utamanya terkait kualitas baku mutu air sungai. 

"Dua bulan lalu saya sudah berkoordinasi dengan Pak Ganjar (Gubernur Jateng Ganjar Pranowo)  terkait baku mutu air di Bengawan Solo. Dan ternyata Pak Ganjar juga menyoalkan kualitas baku mutu air Bengawan Solo yang mengalami penurunan kualitas cukup dalam," urai Khofifah. 

Khofifah berharap, Kementerian LHK bersama Kementerian PUPR dapat melakukan tindak lanjut atas kasus ini dan jika terbukti harus diberi peringatan sampai dengan sanksi sesuai peraturan petundang-undangan bagi perusahaan yang membuang limbahnya secara tidak bertanggung jawab. Bahkan perlu tindakan tegas jika memang dianggap efektif dan bisa menjerakan, sebagaimana Kementerian KLHK juga memberikan strict punishment terhadap perusahaan pembakar hutan. 

Pada hasil rakor, juga disepakati adanya action plan dan surat keputusan bersama antara Provinsi Jatim dan Jateng untuk penanggulangan kondisi air Bengawan Solo. Sehingga, tidak ada daerah yang merasa terkena dampak pencemaran. 

Menurut Khofifah, berbagai upaya mempertahankan baku mutu air sungai ini menunjukkan pentingnya mencintai sungai. Karena itu, ia berharap sungai bisa menjadi beranda depan bagi seluruh warga, bukan hanya di Jatim dan Jateng. 

"Mencintai sungai ini menjadi bagian penting. Oleh sebab itu, saya sudah beberapa kali melakukan susur sungai. Harapannya sungai bisa menjadi beranda depan semua warga. Dan yang tak kalah penting semua habitat di sungai bisa hidup dengan baik," pungkas mantan menteri sosial ini.