Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutan Siti Nurbaya Bakar saat meninjau UPSA di Jalur Lintas Barat, Kecamatan Batu. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutan Siti Nurbaya Bakar saat meninjau UPSA di Jalur Lintas Barat, Kecamatan Batu. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)

Demonstration Plot (Demplot) Usaha Pelestarian Sumberdaya Alam (UPSA) dihadirkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di area Jalur Lintas Barat (Jalibar), Kecamatan Batu, Kamis (5/12/2019).

Dipilihnya Kota Batu itu karena sebagai kawasan pariwisata yang sedang berkembang, sehingga USA juga bisa dikembangkan. Saat ini masih dalam proses pembangunan oleh KLHK pada tahun 2019.

Di Desa Oro-oro Ombo ini KLHK bersama masyarakat membangun Demplot UPSA yang merupakan unit percontohan sistem usaha tani terpadu atau integrated farming system. Dalam Demplot UPSA, diterapkan teknik-teknik konservasi tanah untuk melakukan intensifikasi pengelolaan lahan dengan memperhatikan daya dukung lahan.

“Demplot UPSA ini dikelola oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Panderman pada areal seluas kurang lebih 10 hektare dan menjadi tempat pelatihan dan edukasi untuk melestarikan hutan dan lahan,” ucap Menteri KLHK, Siti Nurbaya Bakar.

Demplot UPSA ini juga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) secara vegetatif dan sipil teknis berbasis wisata.



Kegiatan yang dikembangkan di dalam Demplot UPSA ini berupa persemaian untuk budidaya tanaman kayu-kayuan seperti sengon, waru, jati, eukaliptus, pinus. Selain itu juga terdapat tanaman Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) semacam macadamia, nangka, alpukat, mangga, serta tanaman sela seperti empon-empon, kopi, jahe.

Kemudian di sana juga ada peternakan hewan juga dikembangkan di Demplot UPSA ini, yang mana masyarakat dapat memelihara kambing, domba, atau kelinci melalui kandang komunal. Lainnya juga ada pengolahan lebah madu, pengolahan pupuk kompos.

“Terkait dengan rehabilitasi lahan, masyarakat diberi pengetahuan dan praktek membuat bangunan konservasi tanah dan air atau RHL sipil teknis berupa embung, biopori, dam penahan, dan gully plug,” tutupnya.