Bupati Malang Sanusi launching taman curhat di Desa Curungrejo, Kepanjen (Humas Pemkab Malang)
Bupati Malang Sanusi launching taman curhat di Desa Curungrejo, Kepanjen (Humas Pemkab Malang)

Geliat masyarakat desa di Kabupaten Malang atas pariwisata terbilang tinggi. Hal ini didorong juga dengan masuknya optimalisasi pariwisata sebagai bagian dalam tiga program strategis Kabupaten Malang sampai 2021 datang.

Setiap desa pun satu persatu mulai menggali potensi sumber dayanya untuk menciptakan destinasi wisatanya. Tak terkecuali di wilayah Kepanjen yang notabene sebagai ibu kota Kabupaten, tapi masih terjaga wilayah pertanian dengan keasrian pedesaannya. Walau tentunya setiap saat wilayah-wilayah hijau ini bisa beralih fungsi dengan masifnya pembangunan di Kepanjen.

Wisata baru yang lahir dan dilaunching oleh Bupati Malang Sanusi secara langsung dalam giat gema desa adalah taman curhat yang terletak di Desa Curungrejo dan taman Refugia di Desa Jatirejoyoso yang kedua berada di wilayah Kepanjen.

Terletak di areal persawahan, taman curhat, mendapat apresiasi khusus dari Sanusi. Pasalnya, keberadaan taman curhat akan menjadi bagian dalam meramaikan sektor pariwisata di wilayah Kepanjen.

"Saya apresiasi kreativitas desa-desa di Kepanjen mengolah potensinya. Seperti wisata taman curhat dan taman refugia itu. Bila terus dipoles dan ditingkatkan kedua taman ini bisa jadi destinasi wisata unggulan juga nantinya," ungkap Sanusi, Kamis (12/12/2019).

Apresiasi itu didasarkan juga pada minat masyarakat atau pengunjung pariwisata saat ini. Dimana banyak wisatawan memilih lokasi-lokasi wisata yang aksesnya mudah ditempuh serta berbasis alam.

Seperti wisata Cafe Sawah Pujon yang kini telah memiliki nama di tingkat nasional dan jadi salah satu jujugan wisatawan.

Taman curhat Curungrejo pun memiliki tipikal serupa cafe sawah. Walau tentunya seperti yang dikatakan Sanusi, masih butuh polesan untuk semakin menguatkan potensi yang dimilikinya.

Harapan potensi di taman curhat dan taman refugia akan semakin memperkaya Kepanjen ini pun direspon antusias oleh pihak ke dua desa. Dimana mereka siap untuk terus menggali potensi di dua lokasi yang diproyeksikan menjadi destinasi wisata di wilayah Kepanjen.

"Dua desa ini siap dan bertekad untuk menjadikan taman curhat dan refugia lebih baik dari Cafe Sawah Pujon. Ini tekad luar biasa yang tentunya akan kita dukung ke depannya," ujar Sanusi.

Kepanjen sebagai wilayah di Kabupaten Malang memiliki keunikan sendiri dibanding 32 kecamatan lainnya. Selain sebagai ibu kota kabupaten, juga terkenal sebagai lumbung pangan Malang sampai Jawa Timur (Jatim). Hal ini tentunya memerlukan kejelian masyarakat dalam menggali berbagai potensi yang ada, khususnya di sektor pariwisata.

Memadukan sebuah kota dengan masih cukup luasnya lanksap persawahan di Kepanjen, menjadi tantangan sendiri bagi pemerintah desa maupun Pemkab Malang membentuk Kepanjen. Sebagi pusat pemerintahan, industri sekaligus mampu mempertahankan lahan persawahan yang dimaksimalkan keberadaannya juga sebagai lokasi wisata.

Sanusi pun memberikan beberapa saran kepada masyarakat Kepanjen terkait itu. Misalnya, bagaimana pemdes yang memiliki wilayah persawahan pinggir jalan raya, bisa menyulapnya menjadi wisata edukasi pertanian atau sebagai lumbung padi yang dipadukan juga dengan kepariwisataan.

"Perlu kejelian untuk itu. Tapi melihat berbagai kreasi hari ini, saya yakin Kepanjen mampu mewujudkannya. Potensi di lima desa yang saya datangi luar biasa dan itu sudah diperlihatkan juga," ucapnya.

Hal terpenting, lanjut Sanusi, adanya cita-cita dan tekad kuat seluruh pemangku kepentingan di wilayah untuk mewujudkan dan mempercepat terbangunnya potensi luar biasa itu. Pasalnya, tanpa adanya keinginan besar, maka sebesar apapun potensi yang dimiliki tak akan bisa menjadikannya bermanfaat luas.

"Dan saya telah mendengar cita-cita itu langsung di taman curhat dan refugia. Cita-cita menjadikan dua taman ini bisa lebih baik dari Cafe sawah Pujon. Semoga ini bisa ditindaklanjuti dan terwujud ke depannya," ujar Sanusi.

Politisi PKB ini juga menyampaikan selain dua taman yang bersiap untuk bersaing positif dengan cafe sawah Pujon. Di Desa Dilem pun terdapat lokasi wisata yang dinamakan lembah Dilem. Destinasi wisata yang menjual panorama alam, kesejukan sumber-sumber air, kolam renang serta berbagai wisata edukasi lainnya.

Wisata lembah Dilem ini pun dilaunching oleh Sanusi dan berharap di tahun 2020 sesuai dengan rencana pengelola yaitu dari pihak Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) Dilem, bisa segera di buka untuk umum.

"Potensinya luar biasa dan sudah ada wujudnya semua. Di lebah dilem ini misalnya tinggal menambahkan atau memoles fasilitas lainnya. Sama dengan taman curhat dan taman refugia. Ini artinya untuk Kepanjen, desa-desanya sudah terbangun semuanya," tandasnya.