Kader BMH (Baitul Mal Hidayatullah) bersama pihak Dinas Sosial Kabupaten Malang, Puskesmas Wonorejo Singosari, dan relawan membantu proses pembuatan batik ciprat. (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)
Kader BMH (Baitul Mal Hidayatullah) bersama pihak Dinas Sosial Kabupaten Malang, Puskesmas Wonorejo Singosari, dan relawan membantu proses pembuatan batik ciprat. (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)

Sebanyak 33 orang mantan pengidap ODGJ (Orang Dalam Gangguan Jiwa) di Desa Wonorejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang menjalani tahap pemulihan dengan pendamping, Senin (17/2/2020).

Dari 33 orang mantan pengidap ODGJ , 7 di antaranya adalah mantan korban pasung yang paling lama hingga 15 tahun dipasung, yang pada akhirnya ditampung dalam pembinaan dan pelatihan.

Menurut Ruwiyanto Humas BMH (Baitul Mal Hidayatullah) Jatim gerai Malang, yang terlibat dalam kegiatan sosial ini ada dari beberapa pihak. "Yang terlibat di sini selain pihak pemerintah desa, juga kecamatan, dan Dinas Sosial Pemerintah Kabupaten Malang. Juga ada Puskesmas Ardimulyo Singosari dan juga ada pendampingan dari RSJ. Dr. Radjiman Widyodiningrat Lawang, serta BMH (Baitul Mal Hidayatullah) selaku pemberi pelatihan," beber dia.

Pendampingan yang dilakukan berupa pemberian pelatihan untuk membuat sebuah produk yang bernilai ekonomis. "Mereka diberikan berbagai macam pelatihan untuk meningkatkan perekonomian supaya produktif dan bisa mandiri. Salah satu bentuk pelatihannya adalah membuat batik ciprat, kemudian membuat keset, juga membuat kemoceng. Termasuk salah satunya pelatihan mencuci sepeda motor, sedangkan peralatan-peralatan untuk mencuci sepeda motor ini didukung oleh Dinas Sosial Kabupaten Malang," tambahnya. 

Dalam pendampingan ini BMH (Baitul Mal Hidayatullah) sebagai pemasok instruktur dan bahan baku untuk pembuatan produk yang bernilai ekonomis. "Nah, BMH sendiri melakukan pendampingan untuk pelatihan ini, termasuk dari bahan bakunya dari kita. Jadi kesetnya ini diproduksi dengan bahan baku kain perca atau pakaian yang tidak digunakan kita salurkan ke sini untuk diguntingi sebagai bahan baku untuk membuat keset. Kesetnya dijual sehingga mereka memiliki penghasilan,"Pungkas Ruwiyanto.

Banyak bantuan-bantuan yang disalurkan ke Posyandu Jiwa Wonorejo ini selain alat untuk mencuci sepeda motor dari Dinas Sosial Kabupaten Malang, ada juga bantuan dari pihak lain. "Ada juga dari UM Fakultas Psikologi memberi alat pembuat sandal. Juga dari Polinema memberi alat untuk membuat yoghurt. Tapi untuk makanan ini dari kadernya. Kader-kader ini dari BMH (Baitul Mal Hidayatullah) yang kita perhatikan juga, agar supaya mereka kedepannya lebih bagus, kita beri permodalan, termasuk alat membuat keterampilan makanan," jelas Ruwiyanto yang dikenal juga sebagai Master of Ceremony (MC) spesialis Jawa. 

Dalam memasarkan hasil keterampilan mantan ODGJ (Orang Dalam Gangguan Jiwa) ini, dapat menggunakan BUMDes untuk memasarkannya dan cara-cara lain. Untuk memasarkannya kita ada BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) ditempatkan di sini (barang-barangnya). Kita juga membantu memasarkan melalui bazar-bazar ataupun ekspo yang digelar di berbagai daerah. "Ini kan kita ada produk Ex ODGJ, ada keset, ada kemoceng, juga ada batik ciprat, itu kita pamerkan di sana, sehingga membantu. Untuk hasil penjualan langsung disalurkan ke mereka, BMH hanya membantu memasarkan produknya ini," bebernya.

Selain sebagai tempat pelatihan orang-orang mantan pengidap ODGJ, Posyandu Jiwa ini juga sebagai tempat rujukan daerah lain selain di wilayah Kabupaten Malang. "Selain itu juga sebagai oleh-oleh kalau ada kunjungan dari daerah lain. Di Posyandu Jiwa Desa Wonorejo ini, tempat untuk studi banding bukan hanya di Kabupaten Malang saja, tetapi ada dari daerah lain yang studi banding ke sini, salah satunya dari Mojokerto ke sini," tutupnya.

Harapannya inovasi seperti ini harus terus dikembangkan untuk mengentaskan ODGJ dengan cara yang kreatif, manusiawi dan menjadikan orang-orang tersebut lebih sejahtera.