Turntable Portable (Pemutar Piringan Hitam). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)
Turntable Portable (Pemutar Piringan Hitam). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)

Kemerdekaan Indonesia jadi momen ketika industri musik Tanah Air mulai mengudara. Yakni dengan kemunculan perusahaan-perusahaan rekaman yang dimiliki oleh Warga Negara Indonesia (WNI). 

Industri musik lokal mulai menjajal pasar sendiri sekitar 5 tahun pasca kemerdekaan atau tahun 1950-an. Pada awal tahun 1950-an banyak sekali produksi-produksi piringan hitam (PH) dari berbagai label rekaman.

Kemunculan perusahaan-perusahaan rekaman tersebut juga disambut baik oleh pasar. Hal itu pula yang menandai berputarnya roda industri musik. Berikut, ada 7 perusahaan rekaman yang mula-mula muncul pasca Indonesia merdeka.

1. Irama (The Indonesian Music Company Limited)

Perusahaan rekaman pertama pasca kemerdekaan dirintis oleh seorang penerbang Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Sosok berpangkat komodor yang sangat cinta dengan dunia musik itu bernama Sujoso Karsono. 

Mas Yos, sapaan akrabnya, pada 17 Mei 1951 mendirikan perusahaan rekaman pertama pasca kemerdekaan dengan nama The Indonesian Music Company Limited atau yang lebih dikenal dengan label Irama.

Label Irama memulai debutnya dengan merekam sebuah kuartet jazz yang terdiri dari Dick Abel (gitar), Max van Dalm (bas), Dick van der Capellen (drum), dan Nick Mamahit (piano) dan menghasilkan Piringan Hitam (PH) pertama yang diproduksi oleh label Irama.

Tak cukup di situ, Irama terus memproduksi Piringan Hitam (PH) dari grup musik atau penyanyi Melayu. Beberapa di antaranya seperti Hasnah Tahar dengan debut lagunya 'Burung Nuri' yang diiringi Orkes Musik Bukit Siguntang pimpinan A. Chalik. 

Munif Bahasuan dengan lagunya 'Ratapan Anak Tiri', lanjut dengan Oslan Husein penyanyi lagu minang yang membuat rock n roll lagu 'Bengawan Solo' dan 'Kampuang nan Djauh di Mato' yang diiringi oleh Teruna Ria. Ada lagi Nurseha yang menyanyikan lagu berjudul 'Ayam den Lapeh' dan 'Laruik Sandjo'.

"Serta Mas Yos sendiri yang merekam suaranya untuk menyanyikan lagu 'Nasi Uduk' dan 'Djanganlah Djangan' yang diiringi oleh Orkes Maruti," tulis Theodore KS dalam bukunya yang berjudul Rock n Roll Industri Musik Indonesia. 

Penyanyi serba bisa Bing Slamet dan Sam Saimun merupakan andalan Mas Yos untuk menyanyikan lagu-lagu dengan label Irama. Seperti Sam Saimun yang menyanyikan lagu 'Bulan Sabit' dan 'Monalisa', serta Bing Slamet menyanyikan lagu 'I Only Have Eyes For You', 'Menanam Djagung', dan 'Air Mata'. 

Kemudian ada nama Rachmat Kartolo yang melejit dengan lagunya 'Patah Hati' yang banyak direkam ulang dalam beberapa versi di tahun 1980-an, serta penyanyi A. Harris dengan lagunya 'Kudaku Lari'.

Irama hampir merekam semua jenis musik, mulai dari jazz, rock n roll, pop, keroncong, melayu, hingga gambang kromong. Piringan Hitam (PH) Irama berkode IRS dan SRI merupakan Piringan Hitam (PH) yang diproduksi di luar negeri sekitar tahun 1951-1952. 

Dengan memiliki pabrik Piringan Hitam (PH) sendiri, Irama mengubah kode-kode tersebut.

"IRL menjadi L untuk musik progresif, IRK menjadi K (Keroncong), M (Melayu), B (lagu-lagu barat yang dinyanyikan dan direkam penyanyi Indonesia), G (Gambang), D (lagu-lagu daerah berbahasa sunda), DJ (Jawa), DB (Bali), DK (Batak), DN (Minangkabau), DA (Aceh) dan DM (Makassar)," tulisnya dalam bukunya. 

2. Remaco (Republic Manufacturing Company Limited)

Remaco yang didirikan pada tahun 1954 oleh Jan Tjia yang sebelumnya adalah pemilik Naplaco (National Plastic Company). Awal-awal kepemimpinan Jan Tjia, Remaco pada umumnya memproduksi lagu-lagu keroncong dan hawaiian. 

Setelah sepeninggal Jan Tjia, Remaco diambil alih oleh Eugene Timothy yang sangat suka dengan lagu-lagu The Platters dan Pat Boone yang juga memiliki hobi berburu dan menembak, serta sebagai orang yang turut serta mendirikan Perbakin (Persatuan Menembak Sasaran dan Berburu Indonesia). 

"Di bawah pimpinan Eugene Timothy, Remaco dirombak dan merekam lagu-lagu pop yang dibawakan penyanyi dan grup musik," tulis Theodore KS dalam bukunya.

Beberapa di antaranya seperti Broery Pesolima, Eddy Silitonga, Ernie Djohan, Tetty Kadi, Lilis Suryani, Ida Royani, Benyamin S., Hetty Koes Endang, Rhoma Irama, Elvy Sukaesih, grup Empat Nada, Koes Plus, Mercy's, D'lloyd, Favoriet's, Panbers (Panjaitan Bersaudara), Bimbo, The Crabs, dan lain-lain.

Label Remaco sendiri berhasil menjangkau dan merekam grup musik milik dua putra Presiden Republik Indonesia. "Ada grup Tiga Bintang pimpinan Guntur Soekarnoputra putra Presiden Sukarno dan The Crabs grup milik Bambang Triatmojo anak Presiden Soeharto," paparnya. 

Agen-agen penyalur Piringan Hitam (PH) produksi Remaco berkembang menjadi perusahaan rekaman yang inovatif. "Seperti Purnama Records menjadi Keyboard Records, serta toko musik Suara Kenari berkembang menjadi toko kaset dan CD (Compact Disc) Disc Tarra dan pabrik CD (Compact Disc) Dynamika Tara," tambahnya. 

3. Dimita (PT Dimita Moulding Industries)

Dimita merupakan perusahaan rekaman yang terletak di Jakarta. Didirikan oleh Mohammad Sidik Tamimi atau biasa dikenal dengan nama Dick Tamimi. 

Dick Tamimi merupakan seorang penerbang Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang rela meninggalkan dunia militernya dan beralih menjadi pengusaha. Dia mendirikan perusahaan rekaman PT Dimita Moulding Industries. 

Dimita merupakan salah satu perekam yang melahirkan sejumlah grup dan penyanyi. "Seperti Panbers (Panjaitan Bersaudara), Dara Puspita, Rasela, grup qasidah Rafiqoh Dharto Wahab, duet Benyamin - Ida Royani, Diah Iskandar, serta Koes Plus," tulisnya.

Piringan Hitam (PH) perdana Panbers (Panjaitan Bersaudara) berjudul 'Kami Tjinta Perdamaian' direkam selama lima hari 13-17 Oktober 1971. PH itu berisi lagu 'Achir Tjinta', 'Hanja Padamu', 'Sendja Telah Berlalu', 'No Tears For Farewell', 'Hanja Semusim Bunga', 'Let Us Dance Together', 'Haai......', 'Djakarta City Sounds' dan 'Bye Bye'. 

Dimita juga memproduksi album pertama hingga ketujuh Piringan Hitam (PH) Koes Plus dengan judul Koes Plus Vol. 1 : Dheg Dheg Plas (November 1969), Koes Plus Vol. 2 : (tanpa judul, April 1970), Koes Plus Vol. 3 (Januari 1971), Koes Plus Vol. 4 (Agustus 1971), Koes Plus Vol. 5 (Desember 1971), Koes Plus Vol. 6 (Februari 1972) dan Koes Plus Vol. 7 (November 1972).

Album perdana Piringan Hitam (PH) milik Dara Puspita juga diproduksi Dimita. Judulnya yakni Jang Pertama dan berisikan lagu-lagu populer. Misalnya, 'Pantai Pataja', 'Tanah Airku', 'Mari-Mari', 'Ali Baba', 'Kenangan Jang Indah', 'Burung Kakaktua', 'Lagu Gembira' dan 'Surabaja', yang dirasakan memiliki pengaruh musik barat, seperti Everly Brothers, Rolling Stones dan lainnya.

4. Lokananta

Lokananta juga merupakan salah satu perusahaan perintis di industri musik Indonesia. Bahkan, sampai saat ini masih eksis dan menjangkau pasar anak muda, tak lekang oleh zaman.

"Lokananta yang berarti 'gamelan dari khayangan yang berbunyi tanpa penabuh' terletak di Jalan Ahmad Yani, Surakarta, berdiri 29 Oktober 1955 sebagai pabrik Piringan Hitam (PH) yang diusulkan oleh Kepala Jawatan RRI (Radio Republik Indonesia) Maladi kepada Presiden Soekarno," tulisnya dalam bukunya.

Dalam perjalanannya, Lokananta yang resmi menjadi perusahaan negara di tahun 1961 melalui PP No.215/1961 yang bertujuan untuk merekam dan menggandakan Piringan Hitam (PH) di seluruh 49 studio RRI (Radio Republik Indonesia). 

Selanjutnya di tahun 1972 Lokananta mulai memproduksi kaset dan di tahun 1983 memproduksi kaset-video yang tercantum dalam Keppres No. 13 tahun 1983.

Grup musik yang berkecimpung di label rekaman Lokananta banyak sekali. Salah satunya Orkes Sapta Nada pimpinan Sudharnoto yang mengiringi Bing Slamet dengan lagu 'Bengawan Solo' dan 'Terimalah Laguku' , Sam Saimun dengan lagu 'Pudjaan Kalbu' dan 'Njanjian Sunji', serta Masnun dengan lagunya 'Rangkaian Melati' dan 'Oh Angin Sampaikan Salamku' di studio RRI (Radio Republik Indonesia) Jakarta, tanggal 24 September 1958. 

Lokananta sendiri merupakan perusahaan rekaman yang terbilang sangat lengkap dalam segi peralatannya. Seperti studio yang memiliki ukuran 25 x 13 x 7 m, dengan mixer 32 track, pencetak Piringan Hitam (PH), high-speed duplicating kaset hingga mesin penggandaan format video Betamax dan VHS. 

"Dengan adanya peralatan lengkap tersebut dan menghasilkan produksi yang banyak, keuntungan terbesar Lokananta pada tahun 1984 mencapai 98 juta rupiah," jelasnya dalam bukunya.

Lokananta di tahun 1990-an mengalami penurunan penjualan yang cukup drastis dari kejayaannya di tahun 1955 - 1980-an. "Dari 400 ribu kaset yang diedarkan, yang terjual 300 ribuan. Di tahun 1991, dari 5000 kaset, terjual hanya 700 kaset, dan dinyatakan pailit di tahun 1997, serta tidak melakukan produksi sampai tahun 2001," ungkapnya.

Presiden Abdurrahman Wahid atau yang biasa dipanggil Gus Dur, pada era kepemimpinannya mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2001 tertanggal 18 Mei 2001 tentang pembubaran Lokananta. Banyak penolakan atas aturan itu.

"Karena Lokananta telah berjasa melakukan dokumentasi kebudayaan nasional dalam bentuk audio seperti repertoar musik tradisional dari berbagai penjuru Tanah Air. Banyak seniman dan penyanyi hiburan maupun keroncong Indonesia terkenal berkat rekaman di Lokananta, seperti Sam Saimun dan Waljinah," bebernya.

Di dalam Lokananta sendiri terdapat banyak koleksi Piringan Hitam (PH). Kurang lebih terdapat 40.000 Piringan Hitam (PH) yang merupakan master rekaman musik, gending ataupun iringan tari.

"Juga terdapat rekaman pidato Presiden Soekarno dalam berbagai kesempatan antara lain satu seri yang terdiri dari 30 Piringan Hitam (PH) pidato Bung Karno saat menjamu Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Khrushchev, pemimpin Vietnam Ho Chi Minh, Presiden India Rajendra Prasad dan Presiden Yugoslavia Josep Broz Tito," jelasnya. 

Di pertengahan tahun 2005, Lokananta kembali bangkit dalam dunia perekaman dengan memproduksi lima judul kaset. Yakni ada 'Upacara Pengantin', 'Ibu Pertiwi', 'Lumbung Desa', 'Gambir Sawit' dan 'Beber Layar' yang di-remixing di Australia. 

"Sejak dibubarkannya Lokananta di tahun 2001, saat berada di bawah naungan Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) Surakarta," sebutnya.

5. Metropolitan (Cikal Bakal Musica Studio's)

Metropolitan merupakan pabrik produksi Piringan Hitam yang berdiri tahun 1955 dan dimiliki oleh seseorang bernama Jamin Widjaja atau yang akrab dipanggil Amin Tjengli. Dia merupakan sahabat dari Bing Slamet. 

Saat proses produksi dan pendistribusiannya, Metropolitan menggunakan banyak label. Yakni Mutiara, Canary, Fontana dan Bali Records. "Kemudian Metropolitan beranak-pinak menjadi Musica Studio's, Ris Music Wijaya Internasional, Hemagita, dan Warner Music Indonesia," tulisnya dalam buku tersebut. 

Dari Metropolitan ini, Bing Slamet mengajak Idris Sardi dan Jamin Widjaja mendirikan sebuah band yang mampu memainkan berbagai jenis musik. 

Akhirnya mereka bertiga mengajak Ireng Maulana Benny Mustafa yang masih tergabung dalam grup The Leading Stars juga gitaris jazz Itje Kumaunang, pemain vibraphone Darmono dan Kamid sang penabuh konga. 

"Dengan terkumpulnya para pemain musik tersebut lahirlah Eka Sapta di tahun 1962," bebernya.

Lagu-lagu Eka Sapta, seperti 'Putih-Putih Si Melati', 'Burung Kurtjitja', 'Modjang Prijangan', 'Zakaria', 'Tirtonadi', 'Gambang Suling', 'Euis', 'Titian nan Lapuak', 'Gadisku', 'Herlina', 'Kalau Djodoh' dan 'Suling Bambu'. 

"Populernya lagu-lagu itu mengangkat nama Eka Sapta sebagai grup musik yang disegani, sejajar dengan grup Arulan yang paling terkenal waktu itu," tuturnya.

Pasca peristiwa Gestapu (Gerakan 30 September) Amin Tjengli bekerja sama dengan Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD) dan KKO (Marinir) untuk mendekatkan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dengan rakyat.

"Dalam acara 'Malam Eka Sapta Non Stop Revue' di beberapa daerah seperti Medan, Semarang, Djogjakarta, Sala, Djember, Surabaja, Malang dan Djakarta," jelasnya.

"Sebelum tutup usia 22 Juli 1979 dalam umurnya yang ke-50 tahun di Amerika Serikat, Amin Tjengli mendirikan Musica Studio's Oktober 1971 sebagai kelanjutan dari Perusahaan Piringan Hitam (PH) Metropolitan," tambahnya.

6. J&B Enterprises Corporation

Sujoso Karsono atau yang disapa Mas Yos sang perintis perusahaan rekaman Irama memiliki adik bernama Soegito Karsono. Dia mendirikan J&B Enterprises Corporation setelah perusahaan rekaman Irama menghentikan produksinya.

Berdirinya J&B Enterprises Corporation diiringi peralihan perusahaan rekaman yang mengembangkan dan mulai memproduksi kaset pita. Di sini mulai banyak terjadi pembajakan kaset pita dan peredaran kaset pita bajakan di pasar gelap.

Perbandingan omzet yang dihasilkan dari penjualan Piringan Hitam (PH) itu hanya berkisar belasan ribu per judul lagu untuk omzetnya. Tetapi jika kaset bajakan, bisa mencapai satu hingga dua juta per judul lagu.

"Meskipun tersengal-sengal, perusahaan Piringan Hitam (PH) ternyata masih bisa bernafas. Piringan Hitam (PH) J&B Enterprises Incorporation terjual 1.000 hingga 2.000 dalam satu hingga dua bulan. Tentu saja jauh merosot dibanding masa kejayaan Irama," ungkapnya. 

Sejak Philips pada tahun 1963 memperkenalkan audio-kaset, yang pada akhirnya mulai mengubah konsumsi pendengar yang awalnya sering mendengarkan lagu melalui Piringan Hitam (PH), mulai perlahan beralih ke kaset pita. Sejak saat itu juga Piringan Hitam (PH) berjalan beriringan dengan kaset pita dalam industri musik dunia.