Tersangka Wahyu Asyari (tengah) saat sesi rilis berlangsung (Foto : Istimewa)
Tersangka Wahyu Asyari (tengah) saat sesi rilis berlangsung (Foto : Istimewa)

Wahyu Asyari warga Dusun Karangsono, Desa Kebonagung, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang hanya bisa pasrah saat sesi rilis di Mapolsek Pakisaji berlangsung, Senin (24/2/2020).

Pria 24 tahun ini diringkus polisi karena terlibat jaringan peredaran narkoba. Dari tangan tersangka polisi menyita ribuan narkotika jenis pil doubel, dan uang tunai yang diduga hasil penjualan barang haram tersebut.

”Selain mengamankan tersangka, barang bukti berupa 1.834 butir pil doubel L, uang tunai senilai Rp 840 ribu, dan 1 buah handphone yang digunakan untuk memudahkan saat bertransaksi narkoba juga kami sita guna kepentingan penyidikan,” jelas Kapolsek Pakisaji, AKP Triwik Winarni saat ditemui awak media ketika sesi rilis berlangsung, Senin (24/2/2020).

Menurut Triwik, terungkapnya kasus ini bermula dari adanya laporan masyarakat setempat jika di wilayah Dusun Karangsono, Desa Kebonagung, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang hendak dilangsungkan transaksi narkotika, Jumat (21/2/2020).

Mendapat laporan, anggota Polsek Pakisaji dikerahkan ke lokasi kejadian untuk melakukan penyanggongan. Beberapa saat kemudian, tepatnya sekitar pukul 22.30 WIB pelaku Wahyu nampak mendatangi lokasi penyanggongan.

Setelah memastikan ciri-cirinya sama dengan yang disampaikan warga, petugas yang melakukan pengintaian di lokasi penyanggongan langsung meringkus tersangka.

Semula pria yang berusia lebih dari kepala 2 ini sempat mengelak jika yang bersangkuan merupakan pengedar narkotika. Namun, polisi yang tidak percaya dan melakukan penggeledahan menemukan ribuan pil disaku celana yang dikenakan tersangka.

Lantaran tertangkap tangan, Wahyu akhirnya hanya bisa pasrah saat digelandang petugas ke kantor Mapolsek Pakisaji. ”Terhadap tersangka kami jerat dengan pasal 197 subsider pasal 196 Undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan,” tegas Triwik yang juga pernah menjabat sebagai Kapolsek Wonosari ini.

Ditemui di saat bersamaan, tersangka Wahyu mengaku jika ribuan pil koplo yang disita polisi ini, laku terjual hanya dalam kurun waktu satu bulan. Dimana, kalangan pelajar menjadi sasaran utama untuk memasarkan barang laknat tersebut.

”Sekitar 6 bulanan saya berjualan ini (pil doubel L), saya dapat pasokan dari seorang kenalan. Setelah transfer uang, barangnya akan dikirim dan diletakkan di suatu tempat. Kemudian saya ditelephone dan diarahkan untuk ambil pil yang sudah saya pesan,” ujar tersangka dengan kepala tertunduk malu.