Bupati Malang H.M. Sanusi (Foto: Tubagus Achmad / MalangTimes)
Bupati Malang H.M. Sanusi (Foto: Tubagus Achmad / MalangTimes)

Menjadi tetangga Kota Pendidikan, Kota Malang, bisnis pendidikan di Kabupaten Malang tampaknya masih belum banyak dilirik investor. Pasalnya, jumlah kampus dan perguruan tinggi di wilayah seluas 350 ribu hektare itu masih minim.

Dengan penduduk yang juga  mencapai hampir 3 juta jiwa, Kabupaten Malang dinilai perlu menambah jumlah kampus.

Bupati Malang Sanusi menjelaskan, bahwa untuk menata dan mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) khususnya di bidang pendidikan butuh kerja sama dengan instansi pendidikan.

"Dalam rangka menata dan mengembangkan SDM (Sumber Daya Manusia) pendidikan Kabupaten Malang, saya berupaya agar di Kabupaten Malang berdiri perguruan tinggi yang besar," ujarnya.

Kabupaten Malang yang telah memiliki kampus seperti UNIRA (Universitas Islam Raden Rahmat) yang ada di Kepanjen, ITN (Institut Teknologi Nasional) kampus 2 di Desa Tunjungtirto, Singosari. 

Ada lagi Universitas Ma Chung yang masuk wilayah Kecamatan Dau, serta UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Kecamatan Karangploso dan Kecamatan Dau.

Sanusi bersyukur dengan adanya kampus-kampus besar tersebut. Dia berharap jumlahnya akan ditambah lagi dengan pembangunan dari kampus besar yang lainnya. 

"Ada empat yang mau mendirikan di Kabupaten Malang. Pertama UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) itu sudah ada di Dau. Universitas Islam Malang (UNISMA) ada di Ngenep, dekat Singosari, Karangploso perbatasan, dan sudah bebaskan tanah 80 hektare," jelas Sanusi.

Selanjutnya yang akan membangun di wilayah Kabupaten Malang ada Universitas Brawijaya dan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN) Malang. 

"Untuk Universitas Brawijaya sedang pengadaan tanah untuk pindah ke Kepanjen, butuh tanah 200 hektare di Kepanjen. Sudah MoU dengan bupati," ungkapnya.

"UIN Al-Maliki mau pindah juga, saya taruh di Turen. Supaya di Malang Selatan pojok barat ada, pojok timur ada, nanti minta persetujuan dewan. Kabupaten menghibahkan tanah 15 hektare di Turen, dihibahkan untuk Universitas Islam Negeri," tambahnya.

Sanusi menjelaskan jika dengan banyaknya kampus-kampus besar yang berdiri di Kabupaten Malang, akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di bidang pendidikan dan ekonomi.

Untuk bidang ekonomi, masyarakat di sekitar kampus akan merasakan perputaran uang yang dihasilkan dengan adanya mahasiswa. 

"Keuntungan mahasiswa ada di kabupaten itu pasti semua butuh makan butuh biaya. Kalau satu mahasiswa 1 juta sebulan, mahasiswanya UB itu 60 ribu. Jadi Rp 60 miliar per bulan, uang itu dinikmati oleh orang sekitar kampus," ucapnya.

Untuk kampus UIN dan UNISMA sendiri, Sanusi memperkirakan dengan banyaknya mahasiswa kurang lebih 20 ribu sampai 25 ribu akan banyak sekali perputaran uang di wilayah sekitar kampus. 

"Kalau UIN sekitar 20 ribu, berarti Rp 20 miliar nanti beredar di Turen. Kalau UNISMA sekitar 25 ribu, di situ ada Rp 25 miliar. Itu yang akan muter," tandasnya.

Mengenai aspek di bidang pendidikan, masyarakat Kabupaten Malang akan terpacu untuk berkeinginan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu masuk di dunia perkuliahan. 

"Dan yang akan menggairahkan masyarakat sekitar, mereka berupaya untuk bisa berpendidikan tinggi. Karena melihat mahasiswa yang kliweran (berseliweran) nanti akan tertarik," tuturnya.

Terkait peningkatan SDM (Sumber Daya Manusia), dan sebagian kampus besar sudah ditarik dan berinvestasi di wilayah Kabupaten Malang, Sanusi berharap agar masyarakat dapat memaksimalkan peluang-peluang yang ada. Mulai dari segi pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya.