Kepala Desa Boro, Sutrisno saat ditemui di Kantor desa / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES
Kepala Desa Boro, Sutrisno saat ditemui di Kantor desa / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES

Empat perangkat desa Boro Kecamatan Kedungwaru Kabupaten Tulungagung yang terpilih dalam penjaringan dan penyaringan perangkat desa pada 25 Mei 2019 lalu, hingga kini belum dilantik. Empat peserta perangkat desa dinyatakan lolos setelah memenangi ujian yang diikuti 50 peserta itu berebut empat formasi yakni unsur Kaur Keuangan, Kasi Kesra, Kasun Boro dan Kasun Plandang.

"Itu jauh hari sebelum saya menjabat sebagai kepala desa, dilaksanakan oleh pejabat sementara (Pj) Kades sebelum saya," ujar Kepala Desa Boro, Sutrisno saat ditemui dikantornya, Kamis (27/02) siang.

Saat pelaksanaan, Sutrisno mengaku masih sebagai kepala dusun dan tidak terlibat sama sekali dalam pelaksanaannya.

"Saat itu juga ada yang keberatan karena nilainya dianggap jomplang, maka masalah ini dibawa ke Kecamatan hingga akhirnya sampai ke inspektorat," jelasnya.

Pejabat sementara Kepala Desa Boro, menurut Sutrisno saat itu Dijabat oleh Fakih Syafaat.

"Dia dulu Sekdes di sini, kemudian menjadi pejabat sementara kades lalu sekarang mutasi ke Kecamatan Ngantru," lanjutnya.

Karena dirinya tidak tau menahu tentang ujian perangkat yang sempat ada sengketa itu, Sutrisno tidak mau melantik empat pemenang dan juga tidak melaksanakan ujian ulang.

"Jika melantik dasarnya apa, jika diadakan ujian ulang juga dasarnya mana. Kecuali ada putusan pengadilan atau surat pegangan yang menjadi dasar melantik atau mengadakan ujian ulang, baru saya bisa melaksanakan," ungkap Sutrisno.

Kemudian, kenapa dibuka pendaftaran kembali penjaringan dan penyaringan perangkat desa di desa Boro, Sutrisno dengan tegas menyatakan jika ujian perangkat yang akan dilaksanakan serentak di bulan Maret depan berbeda dengan ujian yang diselenggarakan sebelumnya.

"Ini beda, kita membuka pendaftaran penjaringan dan penyaringan perangkat desa untuk jabatan Kasun yang saya tinggalkan dan jabatan sekretaris desa. Hal ini kami lakukan karena perangkat desa Boro bisa dibilang tinggal sedikit, tidak bisa melayani dengan baik dan harus double pekerjaan," paparnya.

Sementara itu, Kepala Inspektorat Kabupaten Tulungagung, Samrotul Fuad saat dikonfirmasi melalui jaringan telpon mengatakan jika masalah pelantikan atau ujian ulang sepenuhnya di pihak pemerintahan desa.

"Tanyanya jangan ke saya tapi ke penyelenggara, bola sudah di desa," ucap Fuad.

Dirinya mengakui telah memanggil pihak-pihak yang dianggap berkaitan dengan masalah penjaringan dan penyaringan perangkat desa Boro, namun tidak semua yang dilakukan inspektorat dapat disampaikan ke publik.

"Sudah kita panggil, tidak bisa saya sampaikan ke publik. Bola sudah di pihak desa," jelas Fuad.

Saat dikonfirmasi melalui jaringan telpon, dua dari empat peserta perangkat desa yang  memenangi ujian tidak memberikan respons.