Pengunjung warkop yang sebagian pelajar saat dibawa ke Mapolres (Joko Pramono/ JatimTIMES)
Pengunjung warkop yang sebagian pelajar saat dibawa ke Mapolres (Joko Pramono/ JatimTIMES)

3 Pilar Tulungagung benar-benar serius untuk memotong penularan Corona (Covid-19) di wilayahnya. Setelah pada Kamis (26/3/20) malam mengamankan 18 orang yang kedapatan nongkrong di warung kopi (warkop), Jum’at (27/3/20) siang kembali mengamankan 10 orang yang kedapatan nogkrong di warkop.

Ke 10 orang itu diamankan dari 2 warkop di Desa Moyoketen Kecamatan Boyolangu dan 1 warkop di Desa Ketanon, Kecamatan Kedungwaru.

“Tadi kita di warkop di Moyoketen mengamankan 3 anak sekolah, nanti orang tua kita panggil,” ujar Kapolres Tulungagung melalui Kabag Ops Polres Tulungagung , Kompol Supriyanto, selepas jalanya razia.

Selain 3 pelajar yang diamankan, pihaknya juga mengamankan 2 pemilik warung di Moyoketen. Pemilik warung diamankan lantaran tetap ngeyel buka, meski sudah ada maklumat dari Kapolri untuk mengurangi kerumunan.

Sedang sisanya merupakan penunggu warkop yang sudah dewasa.

Razia ini akan terus dilakukan baik siang maupun malam sampai wabah Covid-19 menghilang. Selain di tingkat kabupaten, razia serupa juga dilakukan di tingkat kecamatan.

“Iya sama, jadi ini juga dilakukan di seluruh jajaran, jajaran polsek juga melakukan hal yang sama (razia), sesuai arahan petugas harus dilakukan dengan tegas namun humanis,” terangnya.

Untuk pedagang yang tetap bandel buka meski sudah mendapat sosialisasi, teguran dan membuat surat pernyataan untuk tidak buka selama mewabahnya Covid-19, maka ancaman hukuman penjara denda ratusan juta menantinya.

“Sesuai pasal 93, maksimal 1 tahun penjara atau denda 100 juta,” tandas Supriyanto.

Kamis (26/3/20) sebelumnya, tiga pilar juga mengamankan 18 orang yang kedapatan nongkrong di warkop. Razia pada Kamis malam itu dipimpin langsung oleh Kapolres Tulungagung, AKBP Eva Guna Pandia.

14 dari 18 orang itu masih berstatus pelajar. Dengan tegas Kapolres mengatakan jika pelajar diliburkan bukan untuk keluar rumah, namun belajar di rumah untuk menghindari tertular Covid-19.

Kebanyakan pelajar itu kedapatan di warkop sedang maim game online, bukan untuk mengerjakan tugas sekolah.

Untuk memberikan efek jera, seluruh pelajar dihukum push up. Untuk pulang, mereka harus dijemput orangtua masing-masing.

Kapolres meminta agar orang tua lebih memperhatikan anaknya dengan meminta mereka tetap di rumah untuk belajar.

Warung kopi yang kedapatan buka langsung ditutup oleh petugas, sembari menempelkan maklumat Kapolri tentang larangan berkumpul selama mewabahnya virus Corona.

Sedangkan pemilik warkop dibawa ke Mapolres untuk dilakukan pembinaan. Pasalnya pemilik warkop tetap ngeyel buka dan melayani pembeli yang nongkrong di warkop.

Warkop, kata Kapolres merupakan tempat yang biasa dijadikan tempat berkumpul warga. Warkop biasanya juga menyediakan wifi yang digunakan pengunjung untuk bermain game.

Apalagi di wilayah Tulungagung yang dikenal dengan budaya "nyethe". Nyethe sendiri adalah melukis rokok dengan menggunakan ampas kopi yang lazim di Tulungagung.

Polisi juga melakukan penyemprotan disinfektan pada benda yang ada ada warkop, seperti kursi dan meja.

Sedang untuk warung makam diminta untuk tidak melayani makan ditiempat. Kepada pengunjung yang sedang pesan makanan, polisi meminta agar makanannya dibungkus dan dibawa pulang.

Sejumlah acara hajatan warga juga dipastikan batal karena larangan berkumpul selama wabah virus Corona.

Namun yang paling mengkhawatirkan adalah para pekerja migran yang akan mudik menjelang Idul Fitri, Mei mendatang.

Diperkirakan akan ada 12.000 hingga 14.000 pekerja migran yang pulang kampung ke Tulungagung.

Karena itu Kapolres memerintahkan semua Bintara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtibmas) untuk memantau pekerja migran yang mudik ke desa-desa.