Ketua harian Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Tulungagung, Supriyanto (joko Pramono for Jatim Times)
Ketua harian Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Tulungagung, Supriyanto (joko Pramono for Jatim Times)

Penanganan pasien suspect corona (covid-19) di Tulungagung ditangani oleh RSUD dr. Iskak, dibantu dengan 3 puskesmas penyangga. Namun jika kasus covid-19 mengalami lonjakan, Gugus Tugas Penanganan Covid-19 sudah meminta pada 12 RS swasta di Tulungagung untuk bersedia menjadi RS darurat untuk pasien covid-19.

Ketua Harian Gugus Tugas Penanganan Covid-19, Supriyanto mengatakan RS swasta ini sebagai lini kedua. Mereka didedikasikan untuk menanggani pasien berstatus PDP. Keterlibatannya, bisa jadi alternatif jika rumah sakit pemerntah maupun tiga faskesĀ  pemerintah yang tak bisa menampung akibat ada perlonjakan jumlah pasien.

"Yang tadi saya jelaskan skenario terburuk. Tatkala RS pemerintah dan fakes darurat tidak mencukupi, bahkan diprediksi hingga April ini karena tidak taat melakukan social distancing atau physical distancing," terangnya.

Kata Supriyanto, ke 12 RS itu diakumulasi memiliki 24 ruang isolasi. Sementara RSUD dr Iskak memiliki 29 ruang isolasi, sedangkan tiga faskes darurat covid yakni Puskesmas Beji, Bangunjaya, dan Kalidawir berjumlah 38 ruang isolasi.

"Untuk sekarang kondisinya stagnan. Kami berharap tetap landai begini, dengan begitu penanganannya bisa teratasi. Jangan sampai membeludak, hingga perawat dan dokter dirumahkan karena banyak yang terpapar, kelelahan dan lainnya," terang pria yang menjabat sebagai Direktur RSUD dr Iskak Tulungagung ini.

Sementara itu Direktur RS Muhammadiyah Bandung, Abu Mardah yang juga ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Tulungagung mengaku siap dengan Gugus Tugas tersebut. Saat ini pihaknya masih melakukan inventarisasi kebutuhan untuk penanganan pasien suspect covid-19.

"Mulai hari ini, kami inventaris kebutuhan-kebutuhan apa saja untuk mempersiapkan penanganan Covid-19 untuk satu bulan hingga 1,5 bulan ini," kata Abu Mardah.

Semua RS swasta di Tulungagung sudah siap jika sewaktu-waktu dijadikan RS rujukan penangan Pasien suspect covid-19. Apalagi saat ini seluruh RS juga sudah mempunyai ruang isolasi untuk merawat pasien suspect covid-19.

"Kalau Isolasi Ventilator belum ada. Itu yang punya hanya RSUD. Itupun mereka tengah pengadaan lagi," jelasnya.

Untuk mempersiapkan itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan RSUD dr. iskak terkait protokol penanganan pasien suspect covid-19, serta alur rujukan pasien.

"Selain itu, kesiapan ketiga yakni minimal alat pelindung diri (APD) apa saja yang dibutuhkan. Sebab, selama ini belum ada keseragaman, sehingga beberapa RS masih ada yang canggung untuk masalah ini," terangnya.

Selain RS, organisasi profesi seperti IDI juga siap terjun untuk terlibat dalam rangka kegawatdaruratan wabah ini. Baik dokter umum maupun dokter spesialis paru. Namun demikian, jumlahnya pun juga terbatas.

"Seperti RS Muhammadiyah Bandung, dokter paru kami ada yang harus di karantina karena ada kontak dengan pasien positif Covid-19 yang ber KTP Kecamatan Bandung, makanya yang lainnya harus siap," ucap pria yang juga menjabat sebagai ketua IDI Tulungagung ini.