Dony Pratama S tersangka kasus penganiayaan terhadap remaja putri berkebutuhan khusus saat diamankan polisi (Foto : Polsek Gondanglegi for MalangTIMES)
Dony Pratama S tersangka kasus penganiayaan terhadap remaja putri berkebutuhan khusus saat diamankan polisi (Foto : Polsek Gondanglegi for MalangTIMES)

Perlahan, kasus penganiayaan yang dialami NS (inisial) warga Dusun Krajan, Desa Bulupitu, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang mulai terkuak. Dari hasil penyidikan polisi, motif di balik penganiayaan terhadap remaja putri berkebutuhan khusus tersebut lantaran kasus asmara.

Hal itu dijelaskan langsung oleh Kanit Reskrim Polsek Gondanglegi, Ipda Sigit Hernadi. Kepada media online ini, pihaknya menerangkan jika tersangka sempat ditolak cintanya oleh tersangka. 

”Motifnya diduga karena asmara, kasusnya sampai saat ini masih dalam proses penyidikan,” kata Sigit.

Seperti yang sudah diberitakan, Dony Pratama warga Desa Saptorenggo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang menganiaya korban dengan cara menjerat lehernya menggunakan seutas tali.

Tidak hanya itu saja, remaja kelas 1 SMA itu juga dianiaya oleh pria 25 tahun tersebut, dengan menggunakan senjata tajam jenis pisau. Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka parah di sekujur tubuhnya.

Sesaat setelah kejadian, korban langsung dilarikan ke RSUD Kanjuruhan. Sedangkan pihak keluarga yang merasa tidak terima memilih melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Gondanglegi.

Beberapa jam kemudian, tepatnya pada Rabu (8/4/2020) pukul 01.20 WIB, tersangka beserta barang bukti penganiayaan berhasil diamankan petugas gabungan dari Polsek Gondanglegi dan Polres Malang.

Namun karena tersangka dan korban sama-sama berkebutuhan khusus, yakni bisu dan tuli. Polisi juga menghadirkan kedua orang tua yang bersangkutan untuk mempermudah proses penyidikan. 

Dari situlah, polisi akhirnya mendapat keterangan jika motif dibalik penganiayaan adalah perihal asmara. Yakni lantaran tersangka merasa marah setelah cintanya ditolak oleh korban.

”Akibat perbuatannya tersangka kami jerat dengan pasal 351 KUHP, tentang tindak pidana penganiayaan,” tegas Sigit yang juga pernah menjabat sebagai Kanit Reskrim Polsek Tumpang ini.

Berdasarkan hasil penyidikan, aksi penganiayaan tersebut terjadi pada Selasa (7/4/2020) sore. Tepatnya sekitar pukul 14.30 WIB, tersangka mendatangi korban di rumahnya yang berlokasi di Kecamatan Gondanglegi dengan mengendarai sepeda motor.

Setibanya di lokasi kejadian, keduanya sempat berbincang-bincang dengan bahasa isyarat. Tidak lama kemudian, ibunda korban yang ketika itu ada didapur mendengar ada suara gaduh dari arah ruang tamu.

”Saat dilihat, ternyata suara gaduh itu berasal dari korban yang melawan ketika lehernya dijerat dengan tali plastik,” ucap Kanit Reskrim Polsek Gondanglegi.

Mengetahui hal itu, orang tua korban bergegas melerainya. Seolah tidak terima, tersangka malah mengambil pisau yang disimpannya didalam tas slempang miliknya.

Tidak lama kemudian, pisau tersebut digunakan pelaku untuk menusukkan ke arah tubuh korban. Beruntung, orang tua remaja 16 tahun itu berhasil menghalau beberapa serangan tersangka. 

Meski demikian, bertubi-tubi serangan yang dilancarkan tersangka tetap mengakibatkan korban terluka.

”Berdasarkan keterangan petugas medis, korban mengalami luka tusukan dibagian pelipis leher, tengkuk, pundak, dan punggung,” terang Sigit.

Aksi tersebut baru terhenti setelah orang tua korban berteriak minta tolong. Karena panik, tersangka akhirnya kabur meninggalkan lokasi kejadian, sebelum akhirnya diringkus polisi pada Rabu (8/4/2020) dini hari.

”Kami masih mencari keberadaan pisau yang dibuang tersangka, sesaat seelah menganiaya korbannya. Infonya pisau yang dia gunakan dibuang di wilayah Pakisaji,” tutup Sigit.