Ilustrasi ekonomi digital (Jaringan Prima)
Ilustrasi ekonomi digital (Jaringan Prima)

Malang menjadi kota yang menempati 10 besar sebagai 'dapur' industri digital Indonesia dalam aspek talenta digital. Hal itu sesuai dengan perkembangan ekonomi digital di Indonesia yang sangat impresif. 

Bahkan nilai pasar ekonomi digital di Indonesia telah menembus US$40 miliar pada 2019 dan diproyeksikan mencapai US$133 miliiar pada 2025.

Selain Malang, juga ada Balikpapan juga memiliki daya saing digital paling tinggi di Kalimantan (EV-DCI = 44,2). “Kehadiran perusahaan-perusahaan besar di Balikpapan membuatnya sebagai tempat pertemuan pekerja berkeahlian dari seluruh Indonesia,” kata Partner East Ventures, Melisa Irene.

Namun, angka tersebut tidak dapat menggambarkan dengan lengkap perkembangan dan potensi pasar digital di Tanah Air. Laporan East Ventures Digital Competitiveness Index (EV-DCI) adalah upaya untuk memetakan perkembangan dan potensi ekonomi digital di penjuru Nusantara yang mencakup data dari 34 provinsi dan 24 kota terbesar.

Laporan EV-DCI menunjukkan bahwa ekonomi digital yang saat ini tumbuh pesat, hanyalah sebagian kecil dari potensi Indonesia. Pertumbuhan bakal makin melesat jika Indonesia bisa menanggulangi beberapa kendala yang dihadapi seperti keterbatasan talenta digital, pelaku usaha yang enggan menggunakan produk digital, hingga akses atas layanan finansial yang rendah.

EV-DCI juga menggambarkan ada ketimpangan perkembangan ekonomi digital di Indonesia. "Skor daya saing digital Jawa jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pulau lain, sedangkan selisih skor antara Jakarta dengan provinsi lain di Jawa masih sangat besar," ujar Melisa Irene.

Infrastruktur internet yang lengkap dan tingkat adopsi digital yang cepat membuat Jakarta sebagai magnet industri digital dan pendiri-pendiri startup baru. Skor daya saing digital Jakarta (EV-DCI=76,8) adalah yang tertinggi di Indonesia.

Sementara untuk daerah ujung barat Indonesia, kota dengan daya saing paling tinggi di Sumatra adalah Medan (EV-DCI = 50,3). Meskipun memiliki infrastruktur yang kuat dan pasokan talenta yang memadai, Medan mencatatkan skor yang rendah dalam hal adopsi digital.

Lalu di wilayah bagian timur Indonesia, Makassar adalah kota dengan daya saing paling tinggi (EV-DCI = 46,8). Posisi ini tidak mengherankan karena Makassar adalah pusat ekonomi di regional timur. Namun, skor penetrasi layanan finansial digital dan tingkat adopsi UMKM atas layanan digital sangat rendah.

Dari data yang disajikan oleh EV-DCI, para pemangku kepentingan dan sektor publik dan sektor swasta bisa saling membandingkan tingkat pemanfaatan teknologi digital di wilayah masing-masing.

"Misalnya, bagi pemimpin di tiap daerah, dengan memanfaatkan indeks tersebut dapat semakin terpacu untuk berlomba menciptakan ekosistem yang terbaik bagi perkembangan ekonomi, digital, baik lewat pembangunan infrastruktur, pengembangan talenta, maupun regulasi yang tepat," ungkapnya.

Bagi para pemain besar di industri teknologi Indonesia, EV-DCI bisa menjadi panduan untuk melangkah lebih jauh dari kota-kota besar ke seluruh pelosok Tanah Air, sehingga membantu lebih banyak bangsa Indonesia menikmati manfaat perekonomian digital.

“Untuk mereka yang akan atau baru merintis bisnis, EV-DCI adalah sebuah peta peluang,” tutup Melisa.