Suwarni (Kiri) saksi bisu ketidakmerataan ekonomi di negeri ini (Foto: M Nasir)
Suwarni (Kiri) saksi bisu ketidakmerataan ekonomi di negeri ini (Foto: M Nasir)

Pemerataan ekonomi memang selalu menjadi masalah dasar setiap negara bahkan Indonesia. Meskipun pemerintah sudah mencanangkan berbagai macam program bantuan seperti PKH, Kartu Jaminan Kesejahteraan, Jamkesmas, BPNT serta masih banyak program lainnya. Kendati masalah utamanya yaitu bantuan-bantuan tersebut tidak merata bahkan salah sasaran.


Beberapa bukti yang ditemui Madiuntimes waktu lalu, kisah Nenek Suyatmi yang bertahan hidup tanpa PKH, Kisah Mbah Wiji seorang Janda dan alami patah kaki serta Pak Susilo hidup di rumah berukuran 2 meter x 8 meter tanpa pernah tersentuh pemerintah. Kini media kembali menemui saksi bisu dari ketidakmerataan bantuan yang telah di canangkan pemerintah.

Suwarni (52) tinggal Jalan Pagu Indah Nomor 29 C RT.1/01 Kelurahan Manisrejo. Suwarni harus merawat adiknya (baju merah kanan) yang hingga kini belum menikah, entah karena alasan apa, ketika ditanya media pun ia hanya diam tak menjawab bahkan terlihat ia sedikit bingung tak menggubris lontaran pertanyaan tersebut.  Suwarni merawat adiknya dengan telaten dan penuh kesabaran "untuk makan ya mengandalkan anak lanang (laki-laki) , bantuan dulu pernah dapat dari Basnaz, selain itu belum pernah,".

Bantuan yang Suwarni dapat dari Baznaz Kota tersebut berupa bahan pokok seperti Beras, Minyak, Telur dan pokok makanan lainnya. Namun kini ia tak mendapatkan kembali pasti yang katanya bantuan di canangkan setiap 3 bulan sekali dengan sistem baru ini.

Ia hidup bersama anak laki-laki serta suaminya, dan merawat adiknya tersebut. Dirumah ia memiliki dua kandang ayam kecil-kecilan. ,"kanggo nduwen-nduwen,".buat punya-punyaan saja," Cerita Suwarni dengan singkat.

Tak ingin panjang lebar ia menceritakan keadaan ekonominya. Suwarni yang hidup pas-pas an, ditambah harus mengurus adiknya. kalaupun untuk makan sehari-hari ia harus serabutan tak karuan. , "saben di yen nggeh matun, tapi sak niki mpun mboten kuat.(setiap hari ya menanam padi di sawah orang, tapi sekarang sudah tidak kuat)," tutur Suwarni menjelaskan kegiatan sehari-hari demi mencukupi kebutuhan sekedar makan setiap harinya.

Bantuan bahan pokok hanya datang sekali dari Baznas kota. Selebihnya dirinya mengaku tidak pernah di ajukan untuk mendapat bantuan rutih semacam PKH atau BPNT yang ia sendiri pun sebenarnya tidak begitu memahaminya.

Kurang faham nya masyarakat tentang bagaimana cara mendapat hak yang seharusnya mereka terima serta kurangnya sosialisasi dari perangkat desa yang berwenang membuat ketidakmerataan ekonomi ini semakin nyata adanya. Bahkan terbuka kepada publik secara gamblang.

Lantas bagaimana cara konkrit agar permasalahan ini terus berkurang setiap tahunnya.