Joko Widodo bersama Putra Sulungnya, Gibran Rakabuming (Foto: boombastis.com)
Joko Widodo bersama Putra Sulungnya, Gibran Rakabuming (Foto: boombastis.com)

Ihwal majunya putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming, dalam kontestasi Pilkada Solo 2020 menuai kritik sebagai politik dinasti.

Fenomena majunya Gibran pun sempat dikaitkan dengan mencontohkan ayah-anak yang sama-sama merintis karirnya di dunia politik hingga menjadi presiden Amerika Serikat. Yakni George Herbert Walker Bush dan George Walker Bush. Pun keluarga Kennedy yang eksis di Negeri Paman Sam tersebut.

Baca Juga : Jelang Pilkada, PAC Nyatakan Mosi Tidak Percaya Terhadap Ketua DPC Demokrat Sumenep

Akhmad Sahal, Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Amerika Serikat sekaligus kandidat PhD di University of Pennsylvania, menganggap bahwa contoh yang terjadi di Amerika Serikat tidak relevan atau  tidak senada dengan apa yang disampaikan kedua koleganya di CokroTV,  Ade Armando dan Denny Siregar, yang membela Gibran.

Menurut Sahal, Bush senior dan Bush junior telah diakui kompetensinya dalam ranah politik oleh publik. Sementara Gibran belum memiliki rekam jejak atau kompetensi dalam politik.

"Inilah problem utama politik dinasti. Ini tidak bisa disamakan dengan Gibran, yang meskipun andal dalam bisnis tapi masih terbilang ‘yesterday afternoon boy’ (anak kemarin sore) dalam politik,” ujarnya.

Secara pribadi, Sahal menyayangkan hal itu. Sebab, yang membuat Jokowi selama ini istimewa salah satunya dia tak pernah membawa kepentingan keluarga dalam politik.  “Kalau saya jadi Jokowi, saya akan minta Gibran untuk ‘ngempet’, jadi cawako Solo sampai 2024,” tandasnya.

Baca Juga : Bedah Dinamika Politik Pilwali Blitar, Fisipol Unisba Gelar Diskusi Online

Menurut Sahal, majunya Gibran tanpa kompetensi dan rekam jejak ini akan membuat citra Jokowi luntur.  “Pembuktian yang tepat sosok Gibran jika ingin berkarir dalam politik, lebih baik menceburkan diri terlebih dulu di kawah candradimuka politik,” ucapnya.

Mantan direktur Freedom Institute Jakarta itu menyarankan Gibran agar lebih dulu aktif di partai politik hingga berjuang untuk dapat menduduki kursi di parlemen agar tidak sekadar menjadi pemimpin yang terpilih karena anak presiden.