(dari kiri) Gus Baha dan Quraish Shihab saat berbincang bersama Najwa Shihab. (Foto: YouTube Najwa Shihab)
(dari kiri) Gus Baha dan Quraish Shihab saat berbincang bersama Najwa Shihab. (Foto: YouTube Najwa Shihab)

Gaya nyentrik khas santri masih dipertahankan oleh Gus Baha, kiai yang kini sedang viral dan pengajiannya di YouTube selalu mendapat View jutaan penonton. Pria yang bernama asli KH Ahmad Bahauddin Nursalim ini selalu mengenakan sarung dan kupluk hitam dengan rambutnya yang keluar di bagian depan.

Tak hanya soal penampilan saja yang mempengaruhinya, tinggal di pesantren dikatakan Gus Baha membuat seseorang melihat hidup normal menjadi luar biasa. Dia kemudian menceritakan tentang seorang wali. Ada seorang wali makan satu piring, kemudian merasa kenyang. Istrinya yang makan satu piring pun sudah kenyang. 

Baca Juga : Kabar Duka! Gus Im, Adik Bungsu Gus Dur Tutup Usia karena Gangguan Ginjal

Kemudian Wali tersebut berkata, "Wah kalau untuk bertahan hidup hanya satu piring kenapa saya harus korupsi? Kenapa saya harus rakus?" Lalu, meskipun punya 5 kamar tidur, hanya 1 kamar saja untuk tempatnya tidur. "Kenapa saya harus punya berlebih kamar?" kata Wali tersebut.

"Jadi melihat kehidupan yang normal menjadi hal yang luar biasa," ucapnya saat berbincang bersama Quraish Shihab dan Najwa Shihab dalam program Youtube Narasi belum lama ini.

Bapak Gus Baha pun juga mengajarkan Gus Baha untuk selalu bersyukur. Salah satunya dengan memberi tahunya bahwa ada orang di pasar yang selalu mengucap Alhamdulillah tatkala menerima transaksi Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu.

"Saya sering punya uang jutaan nggak mesti bisa bilang Alhamdulillah. Ini orang awam semudah itu bersyukur. Jadi sebetulnya bidikan kita ini menganggap yang pokok itu ya pokok, yang sekunder sekunder. Sehingga dari tradisi pokok ini apa saja kayak berlebih," terangnya.

Nah, sambungnya, pesantren membuat para santrinya melihat hidup sederhana.

Baca Juga : Hewan Kurban Kapolda Jatim Diserahkan Kapolres Tulungagung ke PPHM Ngunut

Berbeda dengan Gus Baha, satu hal yang membekas bagi Ulama Tafsir Indonesia, Quraish Shihab mengenai pesantren adalah rasa keikhlasan guru dalam mendidiknya. "Yang paling dirasakan itu keikhlasan. Menegur tanpa marah, mengajar tanpa pamrih, itu yang paling jelas," ucapnya.

Dirinya memang sudah belasan tahun di Kairo dan hanya 2 tahun di Pondok Pesantren Darul-Hadits al-Faqihiyyah di bawah bimbingan Habib Abdul Qadir BilFaqih. Akan tetapi, Quraish masih merasakan hubungan yang sangat erat dan istimewa dengan gurunya tersebut.

"Habib Abdul Qadir itu kalau Abi ada sesuatu yang ingat Abi mimpi dia. Jadi ada hubungan. Kenapa? Karena dia ikhlas. Keistimewaan pesantren itu guru-gurunya ikhlas," tandasnya.