Surat Maling Yang Diduga Fetitsme (kiri) , Aksi Gilang Yang Viral dengan Bungkus Jarik (kanan) / Foto : Istimewa / Tulungagung TIMES
Surat Maling Yang Diduga Fetitsme (kiri) , Aksi Gilang Yang Viral dengan Bungkus Jarik (kanan) / Foto : Istimewa / Tulungagung TIMES

Aksi menghebohkan Gilang dengan "Bungkus Jarik" di ternyata juga pernah terjadi di Tulungagung. Di ujung tahun 2017, tepatnya bulan Desember di desa Boro Kedungwaru dan desa Sukowiyono Kecamatan Karangrejo juga terjadi aksi menjijikkan yang diduga dilakukan oleh orang yang diduga mengidap Fetish.

Celana dalam yang dicuri di berbagai tempat itu kemudian diperlakukan tak sepantasnya yang kemudian dikembalikan pada pemiliknya sambil meninggalkan sehelai surat.

Baca Juga : Kabupaten Mojokerto Catat Ada Tambahan 12 Kasus Positif Covid-19 Baru, Total 514 Orang

Hal menjijikan yang dilakukan maling celana dalam itu setelah mencuri kemudian digunakan membungkus kotorannya (tinja). Selain mengembalikan daleman yang dicuri, pelaku juga meninggalkan surat, nomer handphone dan mengaku bernama Yoga.

Saat dihubungi kembali, AKP Puji Hartanto yang saat itu menjadi Kapolsek Karangrejo dan kini menjabat sebagai Kapolsek Kalangbret mengaku masih ingat kejadian itu. "Iya saya masih ingat dan pernah saya tangani. Bahkan setelah itu, pelaku masih beraksi di wilayah lain," kata Hartanto, Selasa (04/08/2020).

Lanjutnya, dalam kasus yang pernah terjadi itu pelapor merasa malu dan beban bathin meski merasa dilecehkan oleh kelakuan maling. "Sifatnya hanya mengadukan atau memberi informasi, jika melapor dan harus membuka identitas juga beban. Tapi saat itu pernah kita selidiki meski belum berhasil terungkap," paparnya.

Hartanto setuju, meski belum terungkap kasus tersebut di-Review agar masyarakat lebih paham dan waspada agar tidak terjadi pencurian pakaian dalam yang kemudian dijadikan alat oleh pelaku yang ternyata mempunyai kelainan orientasi seksual. "Untuk nengingatkan warga kita tidak masalah jika hal seperti itu dibuka, biar pelaku juga tidak melakukan perbuatannya lagi," jelasnya.

Berikut isi salah satu surat yang pernah ditinggalkan maling celana dalam misterius itu.

AYO BU NGENGEK DI
KATHOK SAMBIL
KITA PAKE SOFTEX 

Ibu pernah NGENGEK di KATHOK sambil pakai SOFTEX apa nggak?? 

Aku ingin mengajak ibu berpelukan sambil kita NGENGEK Di KATHOK bareng-bareng 

Tadi KATHOK yang ibu jemur aku ambil dan KATHOK ini pasti milik ibu kaan?? 

Aku ingin pakai KATHOK ibu. Dan aku ingin MASTURBASI sambil NGENGEK di KATHOK sampean bu?? 

Kira-kira kapan ibu bisa ketemu sama aku. Oh ya ini nomor hp aku 085708024XXX nanti tolong ibu sms, WA ya bu. 

Nanti KATHOK ibu bisa ibu ambil setelah kita akrab, tapi untuk sementara bisa SMSan sama aku. Ntar ibu tak kasi foto aku.

Baca Juga : PP Banyuwangi Ungkap Dugaan Penyimpangan Izin Perkebunan, Mencuat Kasus Pencurian Singkong

Konsultan psikologi Ifada Nur Rohmaniah yang juga merupakan aktivis pemerhati Orang Dengan HIV&AIDS (Odha) Kabupaten Tulungagung saat dihubungi kembali masih ingat tentang kejadian saat itu. Menurutnya, pelaku diduga mengalami kelainan seksual jenis Fetish seperti yang dialami oleh Gilang, hanya beda dalam memilih alat atau objek fantasi.

"Fetitisme adalah kelainan seksual yang menggunakan objek sebagai fantasi untuk meningkatkan gairah seksualnya," kata Ifada yang pernah dimuat di media ini.

Menurutnya, pelaku dengan keadaan tersebut cenderung menggunakan objek seperti celana dalam, sepatu, stocking dan barang lainnya. "Ini objek yang paling populer, Fetitisme tingkatkannya sama kayak gangguan jiwa lainnya," jelasnya. 

Ifada juga menjelaskan, Penyebab Fetitisme belum diketahui secara pasti, namun kemungkinannya disebabkan oleh pengalaman masa lalu (traumatik) akibat pelecehan seksual. "Rasa ingin tahu atau tertarik benda lawan jenis dan ketakutan yang berkelebihan atas kemampuan  vitalitas maskulin hingga  potensi takut untuk di tolak, dihina," papar Ifada.

Ifada juga menjelaskan klasifikasi Fetitisme berdasarkan tingkatannya. Ada yang di sebut Pemuja (Desires) . "Ini adalah tahap awal. Tidak terlalu terpengaruh atau fetish tidak terlalu mengganggu pikiran seseorang. Contohnya adalah saat seorang pria mengidamkan wanita dengan payudara yang besar, rambut pirang, atau berbibir tipis. Namun bila pria ini tidak mendapatkan wanita yg diimpikannya itu, dia tidak akan terlalu mempermasalahkannya dan hubungan seksual dengan wanita itu tetap berjalan sebagaimana mestinya," jelas Ifada. 

Kemudian tingkatan lain di antaranya yaitu Pecandu (Cravers) Ini adalah tingkatan lanjutan dari tingkat awal. Saat seseorang penderita telah mencapai tahap ini, psikologis orang ini akan membuat dirinya "amat membutuhkan" pasangan dengan fetish tertentu yg didambakannya. Bila hal itu tidak dapat terpenuhi, akan mengganggu hubungan seksual orang ini, misalnya hilang hasrat seksual atau tidak tercapainya orgasme. 

Kemudian tingkat menengah hingga tingkat tinggi dan yang paling berbahaya adalah Murderes. Ditingkat ini menurut Ifada, Penderita fetisisme akan rela membunuh, memutilasi, demi mendapatkan fetish yg dia inginkan. "Penyakit psikologis ini bisa sembuh dengan terapi psikologis dan pengobatan kejiwaan lainnya. Tergantung dari tingkat fetisisme itu sendiri," pungkasnya.

Jika pelaku pencurian celana dalam karena latar belakang Fetitisme maka seyogjanya pelaku justru mendapatkan perawatan penanganan psikologis yang dialami hingga dilakukan therapy, karena therapy untuk fetitisme sudah dirancang khusus. Jika dibandingkan dengan kelakukan Gilang, Ivada sepakat apa yang pernah terjadi di Tulungagung lebih menjijikkan.