Pengelola wisata gunung wurung, Kibat saat mempraktikkan protokol kesehatan sebelum masuk ke objek wisata (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Pengelola wisata gunung wurung, Kibat saat mempraktikkan protokol kesehatan sebelum masuk ke objek wisata (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

Sederhana dan bersahaja. Dua kata itu sepertinya tepat untuk menggambarkan sosok Kibat, warga Desa Sutojayan, Kabupaten Malang. Disela kesibukannya, pria yang kesehariannya menjadi imam salat 5 waktu dan takmir masjid di kampungnya ini, hanya bisa berharap pundi-pundi rupiah dari wisata yang dia kelola.

Pria kelahiran 1963 ini menyebut objek wisata alam sekaligus edukasi hasil kreasinya itu, dengan nama Wisata Gunung Wurung. 

Baca Juga : Mewahnya Rumah Imam Masjidil Haram Syeikh as-Sudais, Sopirnya Asal Indonesia

”Dari cerita orang tua jaman dulu, mitosnya di sini sempat akan ada gunung. Namun karena ada ayam jago berkokok, akhirnya tidak jadi gunung. Makanya disebut gunung wurung,” terang Kibat saat menceritakan inspirasi nama wisata yang dia kelola.

Sebagai informasi, dalam bahasa jawa khususnya di Malang, wurung dapat diartikan tidak jadi alias batal. Hal itulah yang menurut Kibat mendasari nama wilayah yang kini disulap olehnya menjadi objek wisata alam tersebut.

”Begitu gunung mau tinggi pada waktu manjing (menjelang waktu, red) subuh akhirnya tidak jadi gunung karena banyak ayam jantan berkokok. Jaman dulu kan masih percaya gaib, sehingga wurung (batal, red) jadi gunung. Cerita dari nenek moyang saya seperti itu,” ungkap Kibat.

Bagi yang penasaran lokasi pastinya di mana, dari arah Kota Malang tepat sebelum Pasar Pakisaji, terdapat gapura jalan. Dari situ wisatawan tinggal melintasi jalan perkampungan sekitar 500 meter. Setelahnya kanan jalan akan nampak perbukitan yang terlihat rindang. Di situlah tempat wisata yang kini sedang digarap oleh Kibat. ”Wisatanya terletak di Desa Sutojayan, Kecamatan Pakisaji,” celetuknya.

Sejarahnya, diceritakan Kibat, jauh sebelum ada gagasan membuat wisata, pria yang kini berstatus duda itu memilih untuk mendekatkan diri kepada Tuhan-nya. Yakni dengan menjadi takmir dan memimpin salat lima waktu di salah satu masjid yang ada di Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang.

Hingga akhirnya, karena ada suatu hal mendesak, Kibat memilih untuk kembali ke tempat tinggal aslinya yakni di Desa Sutojayan, Kabupaten Malang.

Beberapa tahun setelah pulang ke kampung halaman, rutinitasnya masih sama. Menjadi takmir masjid dan menjadi imam. Hingga suatu ketika, tepatnya pada bulan Februari 2020 lalu, Kibat iseng ngobrol dengan lurah tempat dia tinggal.

”Saya bilang kalau jarang main ke taman, karena diminta jadi imam salat 5 waktu. Kemudian tiba-tiba diminta sama bu lurah untuk membuat taman di tanah bengkok desa,” tuturnya.

Tanpa menunggu lama, Kibat langsung bergegas menjalankan mandat tersebut. Seminggu kemudian, tubuhnya yang mulai menua dan hanya bermodalkan semangat itu, mampu meratakan tanah bengkok yang dulunya tidak terurus.

”Dulu awalnya dibantu warga saat meratakan tanah, dari yang diproyeksikan 12 hektar hanya 5 hektar saja yang sanggup diratakan dalam seminggu. Setelah diratakan itu, pihak desa langsung syukuran buka taman baru dengan nama wisata gunung wurung,” imbuhnya.

Semenjak acara syukuran itu, perangkat desa memasrahkan segalanya kepada Kibat. Warga beserta pemuda karang taruna, dari penuturan Kibat, hanya sesekali saja membantunya saat merapikan taman wisata.

”Awalnya dikasih dana Rp 25 juta, itu hanya cukup untuk saya buatkan gazebo dan kamar kecil serta beberapa spot wahana wisata lainnya,” ungkap Kibat.

Perlahan, jerih payah Kibat terjawab, wisata gunung wurung mulai banyak dikunjungi wisatawan. Dari yang hanya puluhan, sebelum adanya covid-19 jumlah wisatawan per harinya bisa mencapai ratusan orang.

”Di sini belum saya berlakukan pembelian tiket, hanya saya sediakan kotak parkir Rp 3 ribu. Tapi ada sebagian yang tidak bayar, soalnya pas mendekati waktu salat saya tinggal ke masjid, jadi tidak saya awasi, seikhlasnya saja,” ucapnya sambil tersenyum seolah melipur lara dalam benaknya.

Baca Juga : Mewahnya Rumah Imam Masjidil Haram Syeikh as-Sudais, Sopirnya Asal Indonesia

Dari hasil uang parkir itulah, di tangan dingin Kibat Wisata Gunung Wurung sudah punya segudang wahana. Dari pantauan media online ini, tercatat ada 5 buah rumah pohon, kolam ikan untuk mujaer, kolam taman, kolam ikan untuk terapi, gazebo 8 buah, taman berisi 20 jenis bunga dan sayuran, prosotan, dan ayunan 12 unit.

”Awalnya ayunannya ada 5, kemudian saya buatkan lagi 7 jadi 12 tapi hilang satu karena dicuri. Jadi hanya tersisa 11 ayunan saja,” kata Kibat sembali mengusap peci dan baju koko yang dia kenakan.

Rasa pahit jatuh bangun tidak membuatnya menyerah, seiring berjalannya waktu jumlah wisatawan semakin membludak. Dari penuturannya, dalam sehari bisa 100 orang wisatawan yang berkunjung ke wisata gunung wurung. Bahkan saat akhir pekan, jumlahnya bisa meningkat hingga 250-an pengunjung.

”Hasil dari uang parkir pengunjung itu akan saya buat untuk pelihara ungas, seperti ayam, bebek, dan angsa. Jadi biar anak TK (Taman Kanak-kanak) bisa senang main dan belajar disini, kan juga ada gambar dan lukisan beberapa tokoh pahlawan di sini,” kata Kibat.

Untuk sementara, lanjutnya, di wisata yang dia kelola sudah ada beberapa satwa. Diantaranya adalah ular piton dan monyet. ”Itu dikasih, saya tidak beli. Anggaran dari mana, minta dibelikan selang air saja sampai sekarang tidak diberi sama pihak desa. Alhasil saya harus angkat kaleng air berulang kali untuk menyiram taman,” keluhnya.

Mirisnya, saat objek wisata yang dia kelola mulai banyak pengunjung, kabar tak sedap menerpa Kibat. 

Dari ceritanya, pria yang kini nyaris berusia kepala 6 itu hanya bisa pasrah saat wisata yang dia kelola jadi sepi. Gara-garanya ada salah satu wisatawan yang menceritakan jika melihat sosok penampakan kuntilanak saat berkunjung ke wisata gunung wurung.

”Ada kabar hoax, saya dikasih tau tetangga saya dari media sosial. Katanya ada yang mengirim gambar penampakan kuntilanak ke handphone (media sosial, red). Katanya gambarnya dari sini, tengah taman ini,” ucap Kibat sembari mengatakan jika dirinya selama hampir 5 bulan mendekorasi wisata, bahkan sampai ketiduran di taman tidak melihat sosok makhluk astral.

Semenjak saat itulah, wisata gunung wurung jadi sepi. Dari yang ratusan, kini jumlah pengunjung hanya tersisa puluhan. ”Sejak ada kabar hoax itu, tiga minggu ini jadi sepi. Penurunan pengunjung bisa sampai 50 persen dari yang sebelumnya,” saut Kibat dengan nada lirih.

Beruntung, saat cobaan itu menerpa, Kibat mendapat tawaran kerjasama dari salah satu kampus negeri yang ada di Kota Malang. Dalam penawarannya, pihak kampus bersedia mendanai untuk pengadaan wahana baru agar wisatanya kembali ramai.

”Rencananya jika covid-19 berakhir, saya mau memperbaiki dekorasi wisata disini. Biar bisa ramai, kalau banyak pengunjung kan yang untung ya desa, nama yang terangkat ya desa,” pungkasnya.