PMM buktikan orang Minang bukan panjilek (penjilat)
PMM buktikan orang Minang bukan panjilek (penjilat)

Pernyataan Puan Maharani, terkait harapannya Sumatera Barat (Sumbar) menjadi provinsi yang mendukung negara Pancasila, terus menggelinding. Pro dan kontra di dalam masyarakat masih terus terjadi. Misalnya, dari sejumlah tokoh Sumbar yang memandang, persoalan ucapan Puan Maharani saat menyerahkan surat dukungan PDI Perjuangan ke pasangan bakal calon Gubernur/Wagub itu tidak perlu diperpanjang dan diselesaikan sesuai karakter orang Minangkabau yang pemaaf. 

Di sisi lain, organisasi Pergerakan Milenial Minang (PMM) berbeda pendapat dengan sejumlah tokoh itu. PMM yang lantang dari awal meminta Puan Maharani untuk segera meminta maaf ke seluruh masyarakat Sumbar. PMM menilai, pendapat berbagai tokoh Minang dan Gubernur yang menilai Puan tak perlu meminta maaf, bahkan memintanya untuk segera ke Sumbar tidak mewakili suara masyarakat . 

Baca Juga : Pilkada Kabupaten Malang 2020 di Situasi Covid-19, Sanusi Siap Jika Kampanye Ditiadakan

Fikri Haldi Ketua Umum PMM, menyampaikan kekecewaannya atas penilaian sepihak dari tokoh masyarakat Sumbar dan pejabat pemerintahan tersebut. “Tentu kita sangat kecewa dengan klaim sepihak para tokoh-tokoh Sumbar itu,” ucapnya, Selasa (15/9/2020).

Fikri melanjutkan, masyarakat Sumbar masih belum terima atas ucapan Puan tersebut, sebelum meminta maaf. “Kita menilai dan mengamati berbagai tokoh angkat bicara tidak mewakili kekecewaan masyarakat Sumbar. Jangan jadikan persoalan ini sebagai peluang jalan komunikasi politik,”tegasnya. 

Aktivis jalanan ini juga secara tegas pula menyampaikan, bahwa kekecewaan masyarakat Sumbar jangan dipolitisir dan dilihat sebagai peluang. 

“Ya uni Puan memang orang Minang. Memang betul suku tak dapat dialih (ditukar), malu tak dapat diagiahkan (diberikan). Kita bersaudara. Ya di dalam keluarga pun jika membuat kesalahan atau ada salah paham kita diajarkan untuk segera meminta maaf. Apalagi konteksnya hari ini uni Puan Maharani adalah pemegang tertinggi kekuasaan lembaga perwakilan rakyat Indonesia. Suaranya, ucapannya adalah mewakili rakyat Indonesia,” paparnya.

Baca Juga : Soal Polemik "Sumbar Dukung Pancasila", Ustaz Abdul Somad: Masyarakat Sumbar Pancasilais

Setali tiga uang, Sekretaris Jenderal PMM Randa Afrizal Sandra juga menyampaikan hal senada. Randa mengatakan, bila memang perkataan Puan terpeleset, sudah sewajarnya meminta maaf.  “Tapi kalau memang dia sengaja, kita tidak bisa terima itu. Sampai hari ini pun beliau tidak klarifikasi kok, kenapa banyak yang repot menyimpulkan,” ujarnya.

Randa melanjutkan, masyarakat Sumbar belum bisa menerima ucapan kontroversial Puan. "Mari kita buktikan ke seluruh dunia, bahwa orang Minang ini bukan panjilek (Penjilat). Kita yakin seyakin-yakinnya bahwa masyarakat Sumatera Barat belum bisa terima ucapan uni Puan. Sudah sewajarnya uni Puan sesegara mungkin untuk meminta maaf ke seluruh masyarakat Sumbar. Dan kita minta DPRD Provinsi Sumbar untuk lantang dalam persoalan ini, sebagai wakil rakyat," tandasnya.