Petugas saat mengukur dan menasang pathok di lahan eks Kali Ngrowo (Joko Pramono for Jatim TIMES)
Petugas saat mengukur dan menasang pathok di lahan eks Kali Ngrowo (Joko Pramono for Jatim TIMES)

Tanah eks kali Ngrowo yang mengering di Desa Moyoketen, Kecamatan Boyolangu mulai dipatok dan diukur oleh Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman (Disperumkim) Kabupaten Tulungagung, Rabu (15/9/20).

Tanah seluas 20.225 meter persegi ini membentang sepanjang 600 meter, meliputi 3 desa/kelurahan. Bentangan tanah ini meliputi Desa Moyoketen, Desa Bono dan Kelurahan Kedungsoko Kecamatan Kota.

Baca Juga : 6 Bulan Bansos Tak Turun, Puluhan Warga Laporkan Pemkot Surabaya ke KPK, Ini Kata Inspektorat

“Lebar tanah bervariasi karena ini bekas sungai, antara 20-35 meter. Sehingga jika dihitung terakumulasi 20.225 meter persegi,” terang Kabid Pertanahan Disperumkim Tulungagung, Nurkodig, saat melakukan pengukuran.

Kata Nurkodig, tanah yang diukur merupakan bekas Kali Ngrowo yang lama. Saat dilakukan pembangunan Parit Agung untuk menanggulangi banjir, sungai yang berkelok dibuat lurus.

Sehingga kelokan sungai itu menjadi kering dan dimanfaatkan oleh warga, sebagian besar sebagai pemukiman.

“Semua warga juga mengakui, tanah yang ditempati memang bekas sungai. Jadi proses pendataan dan penertiban ini tidak ada konflik sama sekali,” sambung Nurkodig.

Untuk mengetahui sejarah tanah dan batas-batasnya, Nurkodig sempat mengumpulkan warga desa yang berusia lanjut. Berkat jasa para tua-tua ini, proses penentuan tapal batas bisa berjalan dengan lancar, tanpa perselisihan.

“Kami tidak akan melakukan penggusuran. Kami akan mendata dan menerbitkan sertifikat atas nama Pemkab Tulungagung,” tuturnya.

Selain di lokasi ini, pihaknya juga akan melakukan pengukuran di kecamatan Gondang dan Pakel. Statusnya juga tanah eks Kali Ngrowo.

Di Desa Macanbang Kecamatan Gondang terdapat lahan seluas 2.200 meter persegi. Di Desa Gondosuli, Kecamatan Gondang ditemukan tanah 1.070 meter persegi. Sementara, di Desa Tawing, Kecamatan Gondang ditemukan tanah seluas 2.645 meter persegi.

Pihaknya sudah mengusulkan keberadaan tanah itu ke Bagian Aset DPPKAD Kabupaten Tulungagung, untuk disertifikatkan. Sedangkan di Kecamatan Pakel sudah diperkirakan ada 30.000 meter persegi.

Baca Juga : Warga Kali Semut Gelar Upacara Nglampet, Untuk Lestarikan Mata Air

“Yang tiga desa di Kecamatan Gondang sudah proses sertifikasi. Jadi tidak ada kendala, tinggal menunggu proses,” ungkap Nurkodig.

Setelah dilakukan pendataan, pihaknya tidak berencana menggusur warga yang memanfaatkan tanah itu. Namun warga diwajibkan retribusi pada Pemkab tiap tahun.

Besaran retribusi sudah diatur dalam Perda nomor 9 tahun 2007 yang mengatur pemanfaatan lahan Pemkab. Jika termasuk lahan produktif dengan irigasi teknis, retribusi dipatok Rp 500 per meter persegi per tahun.

Namun jika lahan tanpa irigasi, retribusi yang dikenakan sebesar Rp 300 per meter persegi per tahun. Lahan yang didata diperkirakan akan bertambah, mengingat bekas Kali Ngrowo berada di hampir seluruh kecamatan.

Bahkan sebagian lahan sudah dikuasai perseorangan dan terbit sertifikat hak milik. “Kami tidak mempermasalahkan yang sudah ada sertifikat, tapi kami laporkan. Yang penting semua aset bekas sungai ini terdata semuanya ke Pemkab,” pungkas Nurkodig.  

Informasi dari berbagai sumber menyebut, tanah bekas sungai ini dulunya di bawah Departemen Pekerjaan Umum RI. Tanah ini kemudian dilimpahkan ke Koperasi PU yang ada di Provinsi.

Saat koperasi ini bubar, bekas tanah sungai mati ini dilimpahkan ke Kabupaten Tulungagung, tahun 1996.