Sosialisasi Eri-Armuji yang diwarnai kerumunan massa dan adanya penjemputan dari petugas covid-19.
Sosialisasi Eri-Armuji yang diwarnai kerumunan massa dan adanya penjemputan dari petugas covid-19.

SURABAYATIMES - Kerumunan masyarakat terjadi saat acara sosialisasi pasangan bakal calon wali kota Surabaya Eri Cahyadi dan bakal calon wakil wali kota Armuji akhir pekan lalu. Peristiwa terjadi di sebuah lapangan Kelurahan Sumberejo, Kecamatan Pakal, yang tak jauh dari area Stadion Gelora Bung Tomo.

Dalam sosialisasi tersebut, terjadi sebuah peristiwa. Yakni alah satu masyarakat yang hadir mengalami kejang-kejang hingga sempat membuat orang sekitar yang hadir resah. Dan tidak lama, orang yang mengalami kejang ini dijemput oleh petugas ambulans dari Polrestabes Surabaya dengan mengenakan APD (alat pelindung diri) lengkap.

Tokoh masyarakat Surabaya H Ali Badri Zaini memberikan komentar terkait peristiwa itu. Menurut dia, di tengah pandemi covid-19, seharusnya sosialisasi yang dilakukan mengedepankan protokol kesehatan covid-19. Hal itu untuk mencegah penyebaran covid-19 ke masyarakat. 

"Nggak boleh itu. Saya sangat prihatin dan menyayangkan ada calon pemimpin tidak disiplin dengan protokol kesehatan," ujarnya, Senin (21/9). "Kalau pemimpin tidak disiplin, tidak memberikan contoh yang baik, bagaimana dengan masyarakatnya?" sambung dia.

Ali Badri meminta panwascam setempat untuk melakukan penyelidikan atas kasus tersebut. Bahkan, jika memang terbukti melanggar protokol kesehatan, panwascam harus bertindak tegas, tanpa tebang pilih. "Itu harus disemprit. Panwascam harus nyemprit, tindak tegas," ujarnya.

Ketua Muslimat NU Kota Surabaya Lilik Fadilah juga turut menyayangkan adanya peristiwa ini. Sebab, saat ini memang belum waktunya kampanye. Bapaslon hanya melakukan sosialisasi kepada masyarakat. 

Lilik menjelaskan, di masa pandemi covid-19 yang belum ditemukan vaksinnya, sosialisasi bapaslon wajib menghindari kerumunan. Protokol kesehatan harus dilakukan untuk menekan persebaran covid-19 di Kota Pahlawan. 

"Kami harapkan pasangan calon waspada dan taati protokol kesehatan sehingga tidak terjadi kerumunan dan memakan korban masyarakat," imbuhnya.

Terpisah Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam) Pakal Ahmad Shuhaeb menyatakan pihak panitia penyelenggaraan tidak mematuhi surat izin keramaian diberikan pihak kepolisian.

Tercantum dalam surat izin tersebut, pihak panitia dibatasi dengan jumlah undangan 100 orang tamu. Selain pembatasan kapasitas tamu undangan, dalam surat ini pun diminta agar acara tetap tetap dalam koridor protokol kesehatan.

"Pihak PDIP itu mengadakan sosialisasi paslon Eri Cahyadi dan Armuji. Di sana di saat acara, mereka mengadakan acara  keramaian itu dapat izin 100 orang tamu. Pada kenyataannya melebihi kapasitas undangan yang disetujui oleh pihak Polsek Pakal. Di sana juga diwajibkan jaga jarak," imbuh Shuhaeb.

Terpisah ketika dikonfirmasi, ketua panitia Syaifuddin Zuhri yang juga pengurus  DPC PDIP Surabaya membenarkan saat acara ada salah seorang yang dijemput mobil ambulans oleh petugas dengan menggunakan APD lengkap. 

Namun, dia menolak jika disebut orang itu adalah peserta resmi. "Itu orang tidak jelas. Karena undangan kita ada absensinya dan teman-teman tidak ada yang kenal," ujar pria yang juga anggota DPRD Surabaya ini.

Ipuk -sapaan akrab Syaifuddin Zuhri- juga menolak seseorang yang mengalami kejang tersebut terkena covid-19. "Cuma alasan ayan saja," ucapnya.

Dia menambahkan, acara merupakan sosialisasi pasangan calon Eri Cahyadi dan Armuji untuk diperkenalkan ke masyarakat. "Kalau Mas Eri Cahyadi dan Cak Armuji jelas. Keduanya mengandalkan rekam jejak dan kerja untuk meneruskan kemajuan kota dan kesejahteraan wong cilik di Surabaya,” imbuh pria yang juga ketua Fraksi PDIP di DPRD Surabaya ini.