Bupati Malang Hm Sanusi saat memaparkan upaya Pemkab Malang guna meningkatkan produksi susu sapi perah (Foto : Humas Pemkab Malang for MalangTIMES)
Bupati Malang Hm Sanusi saat memaparkan upaya Pemkab Malang guna meningkatkan produksi susu sapi perah (Foto : Humas Pemkab Malang for MalangTIMES)

Bupati Malang Sanusi mengaku sudah menjalin MoU (Memorandum of Understanding) dengan Shandong, China di sektor sapi perah. Hal itu, menurut Sanusi, dilakukan untuk mendongkrak produksi susu sapi perah yang ada di wilayah pemerintahannya. Namun, lantaran adanya pandemi Covid-19 membuat kerja sama Pemkab (Pemerintah Kabupaten) Malang dengan Shandong, China tersebut terpaksa ditunda.

”Sudah MoU dengan Shandong di China untuk pengembangan (sapi perah, red) di Indonesia. Namun karena ada pandemi Covid-19 akhirnya sementara berhenti dulu,” keluh Bupati Malang saat ditemui media online ini di sela agenda pemerintahan di Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, Rabu (23/9/2020).

Baca Juga : Panen Tembakau, Ini Kata Bupati Soal Penjualan Tembakau Lumajang

Diceritakan Sanusi, awal mula MoU dengan China tersebut berawal saat dirinya melakukan kunjungan ke Shandong. Ketika itu, orang nomor satu di jajaran Pemkab Malang ini juga menyempatkan diri untuk melihat populasi sapi perah, yang dikembangkan di negara tirai bambu tersebut.

”(Sapi perah, red) dari Shandong, China bisa menghasilkan 42 liter susu per hari. Jadi ketika saya kunjungan ke sana akhirnya sekalian bikin MoU, kita upayakan agar di Kabupaten Malang juga bisa seperti sapi perah di sana,” terang Sanusi.

Sejauh ini, berdasarkan penuturan Sanusi, produksi sapi perah di Kabupaten Malang masih didominasi oleh PT Greenfields yang ada di Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang. ”Produksi susu di Greenfields, satu sapi bisa menghasilkan 35 liter per hari. Makanya akan terus kami kembangkan biar produksi susu sapi bisa meningkat,” ungkap Sanusi.

Selain menjalin MoU dengan Shandong University, Pemkab Malang, diterangkan Sanusi, juga menjalin kerja sama dengan beberapa universitas di Malang Raya, termasuk melibatkan peran aktif dari Dinas Peternakan Kabupaten Malang. ”Perwakilan China dari Shandong University sudah pernah satu kali datang kesini (Kabupaten Malang). Tapi karena ada Covid-19 proses kerjasama dibidang sapi perah harus ditunda, nanti kalau pandemi Covid-19 sudah selesai akan dimulai lagi,” ungkap Sanusi.

Baca Juga : Ekonomi Menggeliat, PHRI Tulungagung Minta Kebijakan Penutupan Tempat Hiburan Dihapus

Sejauh ini, lanjut Sanusi, populasi sapi perah di Kabupaten Malang ada 165 ribu. Di mana, dalam satu hari proses perah, satu sapi hanya mampu menghasilkan paling banyak 35 liter susu. Untuk itu, guna segera merealisasikan MoU sapi perah dengan Shandong, Bupati Sanusi membuka opsi untuk melakukan kawin suntik selama pandemi Covid-19 belum berakhir.

”Nanti perlahan kalau itu diizinkan untuk diganti dengan bibit dari China, atau kalau tidak nanti kita beli spesimen-nya saja dari China untuk dikawin suntikkan dengan sapi disisni (Kabupaten Malang),” pungkas Sanusi.