27/01/2023 Geowisata, Sumber Devisa dan Investasi Kesehatan 1 | Jatim TIMES

Geowisata, Sumber Devisa dan Investasi Kesehatan 1

Dec 25, 2022 20:41

JATIMTIMES - PAD suatu daerah, perlu selalu ditingkatkan dengan suatu inovasi. Apalagi, inovasi tersebut adalah inovasi ekonomi hijau, artinya suatu devisa yang sangat memperhatikan keberlangsungan suatu sumber devisa. Pariwisata adalah salah satu sumber devisa yang sangat prospek. Menurut Undang Undang No. 10/2009 tentang Kepariwisataan, yang dimaksud dengan pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata yang didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Bahkan Pariwisata ini, menempati peringkat kelima dalam perolehan sumber devisa, setelah sumberdaya alam lainnya.

Data yang disampaikan oleh Menparekraf, Bapak Sandiaga Uno, bahwa jumlah wisatawan mancanegara yang ada di seluruh Indonesia, pada 2019 adalah 16.106.954 jiwa sementara pada 2020 adalah 4.052.923 jiwa. Terjadi suatu penurunan jumlah yang sangat tajam, yaitu sebesar 74,8 persen. Berkenaan dengan hal tersebut, devisa yang didapat dari sektor pariwisata ini, penurunannya juga berbanding lurus, yaitu pada tahun 2019 adalah 16,9 miliar dolar AS, sementara pada 2020 hanyalah 3,2 miliar dolar AS. 

Baca Juga : Cuaca Ekstrem belum Berlalu, BPBD Banyuwangi Imbau Masyarakat Tetap Waspada

Penurunannya cukup drastis, yaitu sebesar 81 persen. Berkaitan dengan wisatawan Nusantara, pada tahun 2019, jumlah wisatawan Nusantara yang melakukan perjalanan wisata adalah 282 juta jiwa (masih sedang saat mulai pandemi). Pada saat mulai pandemi, yaitu tahun 2020, jumlah tersebut berkurang sebesar 29,7 persen, yaitu hanya 198.246.000 jiwa.

Pungurangan ini bukan semata mata berkenaan dengan mobilitas dari orang yang bepergian, tapi sebagai akibatnya adalah juga berkenaan dengan tenaga kerja yang berkaitan dengan pariwisata ini. Tenaga yang beraktifitas dalam hal pariwisata juga berkurang. Tahun 2019, jumlah tenaga kerjanya adalah sebanyak 14,96 juta jiwa. Berkurang sebesar 6,67 persen, atau menjadi 13,97 juta jiwa pada tahun 2020. Hal yang sama, ternyata juga terjadi pada tenaga kerja pada bidang ekonomi kreatif lainnya. Sementara, target Wisatawan Mancanegara pada tahun 2022 (setelah pandemi) adalah antara 1,8 sampai 3,6 juta kunjungan. Ternyata pada Oktober lalu, target ini sudah terpenuhi, yaitu terdapat 2,5 juta kunjungan.

 

Columnar-Joint6799f2c97b93832e.jpg
Columnar Joint

Sebagaimana wisata yang lain, maka geowisata, juga merupakan salah satu cabang dari Pariwisata. Geowisata merupakan wisata pedesaan dan pegunungan yang bertautan dengan karakter geologi di suatu tempat atau kawasan yang mempunyai prinsip keberlanjutan dengan tiga aspek yang saling berkaitan, yaitu lingkungan (geoconservation), variasi Geologi (Geodiversity), sosial-budaya (Geoculture). Geowisata ini juga bisa digunakan sebagai eduwisata, yaitu wisata edukasi untuk bidang kebumian. 

Kenapa Geowisata bisa dikatakan sebagai suatu sumber devisa yang baru? Hal ini dikarenakan Indonesia, khususnya daerah Malang (selatan) mempunya suatu karakter geologi yang bervariasi. Suatu daerah bisa digunakan sebagai geowisata, salah satu syaratnya adalah terdapatnya variasi geologi batuan (beku, sedimen dan metamorf) dan juga variasi mineral serta adanya proses proses geologi/tektonik yang ada di daerah tersebut. Lingkungan dan culture yang bervariasi juga sangat mendukung, namun yang paling utama adalah variasi geologi.

Suatu daerah yang mempunyai variasi geologi, biasanya juga akan mempunyai pemandangan yang baik. Jadi geowisata ini bisa menarik dari dua sisi, pertama bagi masyarakat kebanyakan, maka konsep ekowisata yang bisa diterapkan untuk menarik pengunjung, namun bagi siswa, mahasiswa maupun professional yang bergerak dalam bidang kebumuian, maka kondisi geologilah yang menarik, tentunya juga sambil bisa menikmati pemandagan dan atraksi lainnya.

Kenapa Geowisata bisa dikatakan sebagai investasi Kesehatan? Hal ini tidak lain adalah karena daerah geowisata ini tidak mungkin ada di perkotaan. Daerah geowisata, berada di daerah pantai, pegunungan atau pedesaan lainnya. Untuk menjangkau suatu titik proses (variasi) geologi, biasanya hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki. Bahkan tidak menutup kemungkinan, disamping jalan kaki, masih diperlukan juga suatu peralatan bantuan lainnya (tali, tangga, juga persewaan peralatan lainnya).

Fosil-Binatang-laut6cfac806af865e0c.jpg
Fosil Binatang laut

Geowisata juga bisa disebut sebagai “Wisata Petualangan”. Dalam menikmati geowisata suatu daerah, biasanya tidak akan cukup kalau hanya dilakukan dalam satu hari saja. Maka, penginapan yang diadakan oleh masyarakat sekitarlah, yang biasanya layak dan baik untuk para wisatawan petualangan ini. Karena masyarakatlah yang sangat diharapkan untuk bisa menjaga lingkungan geologi di daerahnya. 

Oleh karena itu, suatu daerah yang memang berpotensi untuk dijadikan sebagai geowisata (tentunya juga pariwisata alam lainnya akan terikutkan), sangat direkomendasikan untuk bisa dijadikan sebagai “pariwisata petualangan”, dimana disamping sumber devisa bisa didapatkan, kesehatan para wisatawan juga bisa ditingkatkan. Pada akhirnya, investasi dalam hal kesehatan, baik wisatawan, pemandu wisata dan masyarakat juga akan mendapatkan manfaat Kesehatan tersebut. Jika hal seperti ini bisa diimplementasikan, maka Geoconcervation dan geoculture juga  akan terlaksana. Lingkungan terjaga dan kesenian serta hasil kreativitas masyarakat bisa juga menjadi sumber devisa lainnya.

Dimanakah Geowisata di daerah Malang (khususnya) bisa diimplementasikan. Pada tulisan selanjutnya, akan penulis ulas satu persatu daerah yang layak dikembangkan untuk Geowisata.

 

Prof. Ir. Adi Susilo, PhD.

Ketua Pusat Studi Kebumian dan Mitigasi Universitas Brawijaya

Ketua Laboratorium Geofisika, Universitas Brawijaya

Pengurus Pusat ASASI (Akademisi dan Saintis Indonesia)

Topik
geowisata Wisata Alam

Segala opini, saran, pernyataan, jasa, penawaran atau informasi lain yang ada pada isi/konten adalah tanggungjawab penulis bukan JatimTIMES.com.
Kami berhak menolak atau menyunting isi konten yang tidak sesuai dengan kode etik penulisan dan kaidah jurnalistik.
Kami juga berhak menghapus isi/konten karena berbagai alasan dan pertimbangan dan tidak bertanggungjawab atas kegagalan atau penundaan penghapusan materi tersebut.

Berita Lainnya